Rayakan HUT ke-5, DARMAKARYA Gelar Pagelaran Wayang Kulit Massal “Semar Mbangun Kahyangan” di Pendopo Bupati Karanganyar

KARANGANYAR, fokusinews.com– Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-5, Paguyuban Dalang Remaja Karanganyar (DARMAKARYA) bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Karanganyar menggelar pagelaran wayang kulit massal yang melibatkan puluhan dalang muda se-Kabupaten Karanganyar. Acara bertajuk “Guyub Dalang Se-Kabupaten Karanganyar” ini berlangsung khidmat dan meriah di Pendopo Rumah Dinas Bupati Karanganyar, pada Kamis malam (04/06/2026).

Pagelaran yang dimulai pukul 20.00 WIB hingga dini hari ini dibuka secara gratis untuk umum, sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendukung regenerasi seniman pedalangan dan pelestarian budaya di Bumi Intanpari. Ratusan penonton dari berbagai kalangan, mulai dari penggemar wayang, seniman, hingga masyarakat umum, memadati area pendopo untuk menyaksikan kepiawaian para dalang remaja lokal.

Apresiasi Pemerintah dan Hadiri Tokoh Budaya

Acara dibuka oleh Wakil Bupati Karanganyar, H. Adhe Eliana, SE. Dalam sambutannya yang diselingi pantun jenaka khas Jawa, Wabup Adhe menyampaikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif DARMAKARYA. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah sangat mendukung upaya pelestarian seni pedalangan, mengingat Kabupaten Karanganyar telah dikenal sebagai salah satu lumbung dalang profesional di Jawa Tengah.

“Semoga DARMAKARYA dapat terus berkarya, menjaga tradisi, dan mencetak dalang-dalang baru yang tidak hanya mahir dalam teknik mendalang, tetapi juga memiliki kedalaman filosofis,” ujar Adhe Eliana.

Turut hadir dalam acara tersebut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Karanganyar yang baru dilantik, Bapak Hendro Prayitno, SH, MM., Sekretaris Persatuan Pedalangan Indonesia (PPSI) Provinsi Jawa Tengah, Bambang Sulanjari, serta Komite Seni Budaya Nusantara Provinsi Jawa Tengah, Bapak Agus Waryanto. Kehadiran tokoh-tokoh ini menandakan pentingnya kolaborasi antara organisasi seni, pemerintah, dan lembaga kebudayaan dalam merawat warisan tak benda bangsa.

Peserta yang hadir

Lakon “Semar Mbangun Kahyangan”: Filosofi Kepemimpinan Sejati

Pagelaran malam itu menampilkan lakon klasik “Semar Mbangun Kahyangan” yang dibawakan secara estafet oleh 30 dalang anggota DARMAKARYA. Ketua DARMAKARYA, Anggit Laras Prabowo, menjelaskan bahwa dari total 94 anggota terdaftar, 30 dalang terpilih tampil bergantian untuk menunjukkan variasi gaya dan interpretasi masing-masing dalam satu alur cerita yang utuh.

Lakon Semar Mbangun Kahyangan dipilih karena memiliki makna filosofis yang sangat relevan dengan kondisi kepemimpinan saat ini. Kisah ini mengisahkan Semar, sosok punakawan yang merupakan simbol wong cilik (rakyat jelata), mengambil tanggung jawab moral untuk membangun tatanan kehidupan yang lebih baik.

“Pesan moralnya sangat dalam. Kahyangan yang dibangun Semar bukan sekadar istana megah, melainkan representasi tatanan masyarakat yang adil, makmur, aman, dan sejahtera,” jelas narator acara.

Semar mengajarkan tiga sifat kepemimpinan ideal, yaitu:
1. Asah: Saling mengajari dan mengingatkan dalam kebenaran.
2. Asih: Saling menyayangi dan penuh kasih sayang.
3. Asuh: Mengayomi, membimbing, dan melindungi rakyat.

Melalui lakon ini, penonton diajak merenung bahwa kekuasaan atau kemewahan fisik tidak ada artinya jika rakyat menderita dan nilai-nilai keadilan dilanggar. Semar hadir sebagai korektor moral bagi para pemegang kekuasaan.

Sukses Menarik Minat Masyarakat Lintas Generasi

Acara yang berlangsung hingga sekitar pukul 01.00 dinihari ini berhasil menarik perhatian sekitar ratusan an pengunjung yang hadir langsung di lokasi, serta ribuan lainnya yang menonton melalui siaran langsung daring. Antusiasme masyarakat terlihat dari ramainya interaksi selama pertunjukan, membuktikan bahwa wayang kulit masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Karanganyar, baik dari kalangan muda, madya, maupun senior.

Dengan suksesnya penyelenggaraan HUT ke-5 ini, DARMAKARYA berharap dapat terus menjadi wadah pembinaan bagi dalang remaja di Karanganyar, sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam melestarikan identitas budaya daerah di tengah arus globalisasi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *