KEPULAUAN YAPEN, PAPUA – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Kepulauan Yapen dari Kelompok Khusus, Mikha Runaweri, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah nyata pemerintah daerah dalam memberdayakan ekonomi masyarakat. Hal ini disampaikannya saat mengunjungi pameran suvenir khas Papua yang berlangsung di Aula Auditorium RRI Serui, Jalan Patimura, Kepulauan Yapen, Rabu (14/10/2026).
Pameran tersebut memajang berbagai karya tangan kreatif seperti noken, kabilah, dan miniatur perahu hias. Produk-produk ini merupakan hasil dari pelatihan intensif selama dua hari yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata, Kebudayaan, dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Kepulauan Yapen.
Dalam kunjungannya yang juga merupakan bagian dari fungsi pengawasan legislatif, Mikha menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata pemanfaatan Dana Otonomi Khusus (Otsus) Tahun Anggaran 2026 yang tepat sasaran.
“Kami melihat ini sebagai momen pemberdayaan, proteksi, dan afirmasi yang nyata. Sumber pembiayaan kegiatan ini berasal dari Dana Otsus 2026 dan sasarannya langsung menyentuh Orang Asli Papua (OAP). Ini adalah langkah yang sangat baik dari pemerintah daerah,” ujar Mikha kepada awak media.
Peserta pelatihan yang berasal dari empat distrik di Kepulauan Yapen mayoritas adalah pengerajin lokal yang tergabung dalam sanggar-sanggar budaya. Mikha menilai, potensi lokal yang dimiliki masyarakat sangat luar biasa dan memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola secara profesional.
Meski memuji kualitas hasil kerajinan, Mikha menyoroti dua tantangan besar yang masih dihadapi para pengerajin, yakni legalitas hukum dan akses pemasaran. Ia mendorong agar produk-produk khas seperti kabilah dan noken segera mendapatkan perlindungan kekayaan intelektual (HAKI).
“Ke depan, status sanggar harus memiliki legalitas, begitu pula dengan produk yang dihasilkan. Kita perlu mengatur legalitas hukum agar tidak ada klaim sepihak atas karya intelektual pengerajin kita. Ini penting sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada publik,” tegasnya.
Selain masalah hukum, ketersediaan pasar (market) menjadi aspirasi utama yang diserap dari para pengerajin. Menurut Mikha, tanpa tempat pemasaran yang jelas seperti galeri atau kedai suvenir, keberlanjutan ekonomi rumah tangga pengerajin akan sulit terjaga.
“Setelah berbincang dengan warga, kendala utama mereka adalah tidak adanya pasar untuk menampung hasil produksi. Pemerintah perlu menyiapkan tempat pemasaran agar produk dari sanggar-sanggar ini bisa terjual secara berkelanjutan, tidak hanya saat pameran saja,” tambahnya.
Mikha berharap pelatihan serupa tidak berhenti di empat distrik saja, melainkan dapat menjangkau distrik-distrik lain di Kepulauan Yapen. Dengan begitu, keterampilan pengerajin dalam membuat suvenir yang sesuai dengan selera pasar luar daerah dapat terus meningkat.
Menutup pernyataannya, ia menyatakan dukungannya terhadap kepemimpinan Bupati Benyamin Arisoi dan Wakil Bupati Roy Palunga. Ia berharap visi pembangunan “Yapen Rumah Kita” yang berkeadilan, unggul, dan sejahtera dapat terwujud melalui program-program yang langsung menyentuh sendi ekonomi kerakyatan terutama Orang Asli Papua.
“Kami di DPRK akan terus mendukung kebijakan yang pro-rakyat. Mari kita pastikan bahwa di era Otonomi Khusus ini, masyarakat Orang Asli Papua benar-benar merasa dilibatkan dan menjadi subjek pembangunan di tanahnya sendiri,” pungkas Mikha.






