JAKARTA –FOKUSINEWS.COM. Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Hj. Rahmawati Zainal, S.H., secara resmi mengusulkan program pengadaan 1.000 layar bioskop untuk desa dan daerah terpencil di Indonesia. Usulan strategis ini disampaikan langsung dalam Rapat Paripurna DPR RI yang ditujukan kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) pada Rabu (20/5/2026).
Langkah legislator asal Daerah Pemilihan (Dapil) Kalimantan Utara ini diambil sebagai upaya nyata untuk mendorong pemajuan budaya, memantik kreativitas masyarakat, serta mendongkrak pertumbuhan ekonomi di tingkat daerah.
Bukan Sekadar Hiburan, Melainkan Ruang Edukasi
Dalam pandangannya, Rahmawati menegaskan bahwa kehadiran infrastruktur sinema di wilayah pelosok memiliki dimensi fungsi yang jauh lebih luas daripada sekadar tempat rekreasi visual.
“Kehadiran layar bioskop di desa bukan sekadar hiburan, tapi menjadi ruang pendidikan, ruang ekspresi, dan sarana mempromosikan identitas daerah,” ujar Rahmawati Zainal.
Ia menyoroti bagaimana industri kreatif, khususnya perfilman, selama ini masih sangat tersentralisasi di kota-kota besar. Akibatnya, potensi seni dan narasi lokal dari daerah kerap terabaikan atau minim panggung.
“Jangan biarkan karya daerah hanya tersimpan di lemari. Berikan ruang agar mereka tampil dan berkarya,” tambahnya secara tegas, merujuk pada pentingnya memberikan wadah bagi sineas lokal untuk menunjukkan taringnya.
Empat Pilar Urgensi Program 1.000 Layar Bioskop
Berdasarkan pemaparan dalam usulan tersebut, terdapat empat alasan krusial mengapa program pemerataan layar bioskop di kawasan perdesaan dan daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) ini mendesak untuk diimplementasikan:
Perluasan Akses Hiburan: Menghadirkan tontonan yang berkualitas, sehat, dan edukatif secara merata hingga ke pelosok negeri, guna mengikis kesenjangan akses informasi dan rekreasi antara kota dan desa.
Dorong Ekonomi Kreatif: Membuka peluang usaha baru dan menciptakan lapangan kerja di daerah melalui aktivasi ruang-ruang publik penunjang bioskop.
Angkat Budaya & Identitas: Menjadikan film lokal sebagai sarana strategis untuk melestarikan, mendokumentasikan, dan mempromosikan kebudayaan khas daerah ke tingkat nasional.
Pemerataan Pembangunan: Berperan sebagai jembatan penting yang menghubungkan kebijakan pusat dengan kebutuhan riil daerah demi kemajuan bersama yang inklusif.
Multiplier Effect: Menghidupkan UMKM Desa
Lebih jauh, program 1.000 titik layar ini diyakini tidak akan berdiri sendiri, melainkan akan menciptakan multiplier effect (efek pengganda) yang signifikan terhadap ekosistem perekonomian lokal. Salah satu sektor yang paling diuntungkan adalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat.
Di sekitar area pemutaran film, ruang-ruang ekonomi baru diyakini akan tumbuh secara organik. Para pedagang kuliner lokal, perajin cinderamata, dan penyedia jasa setempat dapat memanfaatkan kerumunan massa yang hadir untuk memasarkan produk mereka. Sinergi ini mengusung semangat “UMKM di Desa-Desa Tumbuh Bersama dan Maju.”
Melalui integrasi ini, 1.000 titik layar yang dicanangkan tidak hanya menjadi proyektor visual, melainkan bertransformasi menjadi kekuatan nyata yang menggerakkan roda ekonomi sekaligus memperkokoh ketahanan kebudayaan nasional.
Kaperwil Kaltara Abdul Rahman






