Benyamin Wayangkau Desak Konferensi Adat Saireri Segera Digelar, Usul Lokasi Dialihkan ke Biak Numfor

JAYAPURA, PAPUA — Tokoh Pemuda Adat Saireri, Benyamin Wayangkau, mendesak Plt. Ketua Dewan Adat Saireri beserta jajarannya segera menindaklanjuti mandat penyelenggaraan konferensi adat yang menurutnya telah tertunda selama berbulan-bulan sejak surat keputusan kepanitiaan diterbitkan pada Maret 2026.

Beny menilai, hingga Oktober 2026, proses persiapan konferensi seharusnya sudah menunjukkan perkembangan nyata. Karena itu, ia meminta pemuda adat turut mendorong Dewan Adat agar segera mengambil langkah sesuai mekanisme organisasi.

“kami Pemuda harus mendesak proses ini segera disikapi secara baik oleh Dewan Adat sesuai dengan mekanisme organisasi,” ujar Beny saat dikonfirmasi pada Senin (12/10/2026).

Ia menegaskan, apabila panitia yang telah dibentuk dinilai tidak mampu melaksanakan mandat sesuai surat keputusan, Dewan Adat Papua perlu mempertimbangkan langkah organisasi, termasuk mengevaluasi kepanitiaan dan membentuk tim baru dengan tenggat waktu yang jelas.

Menurut Beny, pembentukan panitia baru dapat menjadi salah satu pilihan apabila langkah tersebut diperlukan untuk memastikan konferensi terlaksana. Ia berharap proses pergantian atau evaluasi dilakukan secara organisatoris dan berorientasi pada penyelesaian agenda.

Beny juga menyoroti apabila alasan pembiayaan yang berpotensi menghambat penyelenggaraan konferensi. Karena menurutnya, pelaksanaan konferensi adat tidak mesti sepenuhnya bergantung pada dukungan anggaran pemerintah.

Ia mendorong agar kekuatan swadaya masyarakat adat dimanfaatkan, termasuk melalui keterlibatan warga dalam menyiapkan konsumsi dan kebutuhan kegiatan.

“Konferensi adat ini bukan urusan bergantung anggaran ke pemerintah. Ada makanan-makanan adat itu. Undang masyarakat adat hadir untuk konferensi, bawa makanan adat dari dusun dan kebun, lalu duduk bersama untuk berbicara,” katanya.

Bagi Beny, keterlibatan masyarakat adat secara langsung merupakan bagian dari semangat kebersamaan yang seharusnya mendasari pelaksanaan konferensi.

Dalam pernyataannya, ia juga menyampaikan apresiasi atas konsolidasi akbar yang mempertemukan pemangku adat dan pemuda adat dari Keerom, Mamberamo Raya, Grime Nawa, Deypansoro, hingga Port Numbay. Kegiatan tersebut berlangsung pada 7–9 Oktober 2026 di Kabupaten Jayapura.

Ia berharap keberhasilan konsolidasi tersebut menjadi dorongan bagi Dewan Adat Saireri untuk segera menuntaskan agenda konferensi di wilayahnya.

Beny menyebut panitia konferensi Saireri telah dibentuk sejak beberapa bulan lalu. Namun, menurutnya, hingga Oktober 2026, konferensi tersebut belum terlaksana.

Ia juga mengusulkan agar lokasi pelaksanaan dapat dialihkan ke kabupaten lain apabila Kepulauan Yapen belum siap menjadi tuan rumah. Biak Numfor disebut sebagai salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan.

“Kalau memang untuk pelaksanaannya di Yapen belum siap, dapat dialihkan ke kabupaten lain yang mungkin telah siap, misalkan Biak Numfor,” ujarnya.

Beny berharap Plt. Dewan Adat Saireri beserta jajarannya segera memberikan kepastian mengenai tahapan, kesiapan, dan waktu pelaksanaan konferensi. Menurutnya, kejelasan tersebut penting agar mandat organisasi dapat dituntaskan dan konsolidasi masyarakat adat Saireri berjalan sesuai harapan. (**)

 

Pos terkait