Akses Jalan Puskesmas Warari Terhambat, Pemilik Hak Ulayat Siap Hibahkan Lahan Demi Kemanusiaan

Pemilik Hak Ulayat, Elia Kaiba, dan Petugas Puskesmas Warari, Yansen Waay, saat ditemui oleh media.

KEPULAUAN YAPEN, PAPUA – Persoalan akses jalan menuju fasilitas kesehatan kembali menjadi salah satu sorotan tajam. Kondisi jalan masuk menuju Puskesmas Warari di Kampung Imandoa, Distrik Anotaurei, Kabupaten Kepulauan Yapen-Papua, yang dinilai jauh dan tidak representatif memicu keprihatinan mendalam, baik dari kalangan warga maupun petugas kesehatan setempat.

Menanggapi situasi tersebut, Elia Kaba, selaku pemilik hak ulayat di wilayah Puskesmas Warari, mengambil langkah konkret dengan siap menghibahkan sebagian lahannya untuk pembangunan jalan baru. Langkah ini diambil sebagai respons atas sulitnya akses yang selama ini harus dilalui oleh pasien, terutama dalam situasi darurat.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Selama ini, akses utama menuju Puskesmas Warari berada di sebelah timur. Namun, jalur tersebut dianggap kurang strategis karena lokasinya yang berhadapan langsung dengan gereja dan memiliki jarak tempuh yang lebih jauh bagi mayoritas warga.

“Jalan masuk di sebelah timur itu aksesnya agak jauh dan jumlah pasien dari arah sana tidak terlalu banyak. Sebaliknya, pasien yang datang dari arah barat, seperti dari Kelurahan Anotaurei, Kampung Pambo, Boyaka-wini, Warari, hingga Manaini, justru jauh lebih banyak,” ujar Elia Kaba saat memberikan keterangan kepada media pada selasa (13/10/2026) yang dikutip dari vidio unggahan Seruipos.com.

Elia mengungkapkan rasa prihatinnya melihat kendala yang dihadapi pasien dan petugas medis setiap harinya. Ia menyebut bahwa persoalan ini sebenarnya sudah pernah dibahas dalam forum Musrenbang bersama bagian Tapen sekitar tiga hingga empat tahun lalu, namun hingga kini belum ada tanggapan serius dari pemerintah daerah.

Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pelayanan publik, Elia Kaba menyatakan kesiapannya untuk menyerahkan lahan kurang lebih sepanjang 100 meter dengan lebar 5 meter guna membuka akses jalan dari arah barat yang dinilai lebih strategis.

“Saya meminta pemerintah daerah segera mendukung dan membantu agar jalan akses sepanjang kurang lebih 100 meter dan lebar 5 meter ini segera diselesaikan. Ini adalah persoalan kemanusiaan. Saya sedih melihat ambulans harus melewati jalan yang rusak, bahkan pernah ada seorang ibu yang terpaksa melahirkan di dalam mobil karena kendala jalan,” tegas Elia.

Puskesmas Warari sendiri beroperasi secara intensif dalam dua sif, mulai pukul 08.00 pagi hingga 21.00 malam. Kondisi jalan yang mumpuni sangat dibutuhkan agar petugas medis dapat bekerja dengan maksimal dan pasien tidak lagi kesulitan menjangkau fasilitas kesehatan.

Senada dengan Elia Kaba, Yansen Waay, salah satu petugas kesehatan di Puskesmas Warari yang mewakili kepala puskesmas, menyatakan dukungan penuh atas inisiatif pemilik hak ulayat tersebut. Menurutnya, kendala akses jalan sudah menjadi beban lama bagi operasional puskesmas.

“Kami petugas sangat mendukung sepenuhnya langkah Bapak Pemilik Ulayat. Masalah jalan ini sudah lama kami rasakan. Akses dari bagian barat memang sangat krusial bagi warga di tujuh kampung dan satu kelurahan di Distrik Anotaurei,” kata Yansen Waay.

Yan juga menceritakan pengalaman pahit tim medis saat melakukan rujukan pasien. Guncangan akibat jalan yang rusak seringkali membahayakan kondisi pasien, terutama ibu hamil.

“Kendala ini adalah bukti nyata. Beberapa pasien yang kami antar atau jemput untuk persalinan sering terbentur masalah jalan. Memang ada yang berhasil tiba dengan selamat, tapi ada juga yang tiba-tiba melahirkan di mobil karena kondisi jalan yang tidak layak. Kami berharap ada pengerasan jalan atau pengaspalan secepatnya,” tambahnya.

Warga dan petugas kesehatan pada puskemas Warari berharap agar tawaran hibah lahan dari pemilik hak ulayat dapat segera ditindaklanjuti dengan pembangunan infrastruktur permanen demi menjamin hak masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang cepat dan layak.

Pos terkait