Biak-Papua. Fokusinews.com. Pemerintah Kabupaten Biak Numfor melalui Dinas Pariwisata memastikan seluruh persiapan Festival Biak Munara Wampasi (FBMW) 2026 terus dimatangkan menjelang pelaksanaannya pada 1 hingga 7 Juli 2026.
Festival pariwisata tahunan yang menjadi ikon Kabupaten Biak Numfor ini diproyeksikan mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara sekaligus memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya Orang Asli Papua (OAP).
Kepala Dinas Pariwisata Biak Numfor, Turbey Onny Dangeubun, menyampaikan bahwa FBMW 2026 merupakan salah satu agenda strategis daerah yang telah masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata. Pernyataan tersebut disampaikan saat dikonfirmasi awak media di Lapangan Cenderawasih, Senin (29/6/2026).

Mengusung tema “Elok Alamku, Reswana Budaya”, festival tahun ini akan dipusatkan di tujuh destinasi wisata unggulan yang tersebar di Kabupaten Biak Numfor. Selain menjadi wadah pelestarian seni, budaya, dan tradisi lokal, penyelenggaraan festival juga diarahkan untuk meningkatkan tiga indikator utama sektor pariwisata, yakni jumlah kunjungan wisatawan, lama tinggal (length of stay), serta nilai belanja wisatawan selama berada di Biak.
Antusiasme terhadap FBMW 2026 tidak hanya datang dari dalam negeri. Sejumlah wisatawan dan delegasi dari Singapura, Malaysia, Filipina, hingga Tiongkok telah mengonfirmasi kehadiran mereka untuk mengikuti berbagai kegiatan bertema wisata bahari, budaya, dan ekowisata yang menjadi daya tarik utama Kabupaten Biak Numfor.
“Kami berharap Festival Biak Munara Wampasi benar-benar menjadi lokomotif penggerak ekonomi daerah. Dampaknya akan dirasakan langsung oleh porter di pelabuhan dan bandara, pelaku transportasi, hotel, homestay, hingga UMKM yang menjual produk kerajinan maupun kuliner khas Biak,” ujar Turbey.
Ia menjelaskan, seluruh rangkaian kegiatan festival disusun dengan melibatkan komunitas lokal sebagai pelaksana utama. Dari total agenda yang direncanakan, sebanyak 12 kegiatan telah memasuki tahap persiapan sekitar 90 persen.
Sejumlah agenda unggulan yang akan menjadi magnet pengunjung di antaranya Lomba Foto Bawah Air Internasional yang menampilkan keindahan terumbu karang Biak, Run Tour Pulau Rurba Kecil sebagai perpaduan olahraga dan promosi destinasi wisata, serta Simfoni Wampasi yang menghadirkan kolaborasi para musisi dan komunitas seni lokal.
Lebih jauh, Pemerintah Kabupaten Biak Numfor memastikan manfaat ekonomi festival akan dirasakan langsung oleh masyarakat. Sekitar Rp150 juta dana segar diproyeksikan mengalir kepada 30 kelompok seni yang terlibat dalam kegiatan Parade Wor dan Suling Tambur.
Pemerataan manfaat ekonomi juga menjadi perhatian utama penyelenggara. Karena itu, sejumlah kegiatan festival akan digelar di berbagai kampung wisata, seperti Kampung Nurwar, Kampung Anggopi, hingga Pulau Owi, sehingga perputaran ekonomi tidak hanya terpusat di kawasan perkotaan.
“Kami memastikan Orang Asli Papua menjadi pihak yang memperoleh manfaat terbesar dari penyelenggaraan festival ini. Uang yang berputar adalah uang tunai yang langsung diterima oleh pelaku usaha dan masyarakat di lapangan,” tegas Turbey.
Di akhir keterangannya, Turbey mengajak seluruh masyarakat Biak Numfor untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam sebagai aset utama pariwisata daerah. Menurutnya, konsep ekonomi restoratif harus menjadi semangat bersama agar pengembangan sektor pariwisata tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan.
“Biak adalah rumah besar kita bersama. Jika alamnya tetap terjaga dan wisatawan memperoleh pengalaman yang baik, maka mereka akan menjadi duta yang menceritakan keindahan Biak ke berbagai daerah bahkan ke dunia. Itulah yang akan membuat nama Biak terus tumbuh sebagai destinasi wisata unggulan Indonesia,” pungkasnya.
(Heri)






