Irianto Lambrie Ungkap Pengalaman Hadapi Kartel Narkoba di Meksiko: Perang Narkoba Tak Cukup dengan Tembok

FokusiNews.Com,Kaltara. Minggu 5 Juli 2026

TARAKAN – Ketua Umum Badan Pengelola Islamic Center (BPIC) Kalimantan Timur, Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, M.M., mengungkapkan pengalaman spiritual dan profesionalnya menyaksikan langsung realitas kartel narkoba di Meksiko serta perbatasan Amerika Serikat (AS). Dari pengalaman itu, ia menyimpulkan bahwa perang melawan narkoba tidak akan pernah menang jika hanya mengandalkan tembok tinggi dan aparat bersenjata.

Dalam catatan reflektifnya yang diterima di Tarakan, Minggu (5/7/2026), Irianto menyebut narkoba sebagai musuh bersama seluruh umat manusia yang kian sulit diberantas meski negara-negara di dunia telah menggelontorkan dana sangat besar.

“Ironisnya, semakin keras perang terhadap narkoba dilakukan, jaringan peredarannya justru semakin canggih dan semakin sulit diberantas,” tulis Irianto.

Ia menjelaskan, di balik bisnis haram itu berdiri organisasi mafia dengan struktur rapi, modal nyaris tak terbatas, teknologi modern, dan jaringan internasional luas. Bahkan, kata Irianto, bos narkoba kerap menyusup ke institusi resmi melalui suap, korupsi, hingga menjadi penyandang dana dalam kontestasi politik demi perlindungan hukum.

Pengalaman itu ia peroleh saat menghadiri konferensi internasional lingkungan hidup di Guadalajara, Meksiko, pada 2016. Saat itu ia menjadi pembicara mewakili Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara dalam forum yang diikuti sekitar 200 gubernur dan kepala daerah dari berbagai negara.

Keikutsertaan Kaltim dalam organisasi global itu dirintis Irianto saat menjabat Sekretaris Daerah Provinsi Kaltim mendampingi Gubernur Awang Faroek Ishak. Kerja sama itu kemudian membuahkan hasil nyata, yakni insentif karbon senilai Rp85 miliar bagi Kaltim di era Gubernur Isran Noor atas keberhasilan menjaga kawasan hutan.

Namun di balik kesuksesan forum internasional, Irianto mengaku menyaksikan sisi kelam Meksiko yang selama ini hanya ia ketahui dari film dan berita. Meksiko dikenal sebagai salah satu negara penghasil dan jalur utama perdagangan narkoba dunia.

“Suasana di Guadalajara maupun saat singgah di Mexico City memberikan kesan tersendiri. Sebagai tamu, keamanan kami terjamin, namun atmosfer kewaspadaan terasa sangat kuat. Cerita kekejaman kartel bukanlah fiksi, melainkan kenyataan yang hidup di tengah masyarakat,” kenangnya.

Pengalaman lain ia rasakan saat mengunjungi putri keduanya yang telah menetap di San Diego, California, AS, sejak 2012. Dari San Diego, perbatasan dengan Kota Tijuana, Meksiko, hanya berjarak satu jam perjalanan darat.

Di perbatasan itu, AS membangun tembok pembatas sangat tinggi dan kokoh yang dijaga ketat aparat kepolisian dan militer. Namun, kata Irianto, berton-ton narkoba tetap lolos setiap tahun melalui terowongan bawah tanah hingga modifikasi kendaraan super canggih.

“Fakta ini menunjukkan bahwa perang melawan narkoba bukan sekadar persoalan membangun pagar yang tinggi atau memperbanyak aparat keamanan. Selama permintaan pasar masih besar dan keuntungan mencapai miliaran dolar, selalu ada cara baru yang ditemukan pelaku kejahatan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti ironi kehidupan imigran Meksiko di AS. Sebagian sukses dan sejahtera, namun tidak sedikit yang terjerumus kemiskinan ekstrem hingga menjadi tunawisma di kota-kota besar seperti Los Angeles dan San Diego.

Dari perjalanan lintas negara itu, Irianto menarik pelajaran bahwa persoalan narkoba bukan hanya masalah hukum, melainkan berkait erat dengan pendidikan, kemiskinan, moral, keluarga, hingga tata kelola pemerintahan yang bersih.

“Ketika integritas aparat melemah dan masyarakat kehilangan harapan, jaringan narkoba akan selalu menemukan ruang untuk berkembang,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak semua elemen bangsa turut bertanggung jawab. Keluarga harus menjadi benteng pertama, sekolah tempat pembentukan karakter, tokoh agama menguatkan moral spiritual, dan pemerintah wajib membangun sistem transparan bebas korupsi.

“Sebagai bangsa religius, Indonesia masih memiliki modal sosial berupa nilai agama, gotong royong, dan kepedulian masyarakat. Modal inilah yang harus terus dipelihara,” katanya.

Ia menegaskan, mafia narkoba mungkin memiliki uang, senjata, dan pengaruh politik, tetapi mereka tidak akan pernah mengalahkan bangsa yang masyarakatnya memiliki iman, integritas, pendidikan baik, dan kepedulian untuk saling menjaga.

“Di situlah sesungguhnya benteng pertahanan terkuat sebuah bangsa,” pungkas Irianto Lambrie.

Laporan : Sahbudiman

Pos terkait