YOGYAKARTA , Selasa 28 Juli 2206 #Fokusinews.com – Sri Sultan Hamengkubuwana I merupakan pendiri sekaligus raja pertama Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Sosoknya dikenal sebagai pemimpin besar yang tidak hanya berhasil mendirikan kerajaan baru setelah pecahnya Mataram Islam, tetapi juga mewariskan sistem pemerintahan, tata kota, budaya, dan nilai-nilai keislaman yang masih menjadi identitas Yogyakarta hingga saat ini.
Lahir sebagai Raden Mas Sujana
Sri Sultan Hamengkubuwana I lahir di Keraton Kartasura pada 5 Agustus 1717 dengan nama Raden Mas Sujana. Ia merupakan putra Susuhunan Amangkurat IV, Raja Mataram Kartasura, dari seorang garwa selir bernama Mas Ayu Tejawati.
Menurut silsilah keluarga keraton, Mas Ayu Tejawati merupakan keturunan bangsawan Jawa yang memiliki garis keturunan hingga Kerajaan Majapahit. Setelah putranya dinobatkan sebagai raja, Mas Ayu Tejawati memperoleh gelar kehormatan Kanjeng Ratu Ageng.
Masa Muda yang Penuh Tempaan
Sejak kecil, Raden Mas Sujana dikenal sebagai sosok yang cerdas, tangguh, dan berdisiplin tinggi. Ia mahir menunggang kuda, memanah, serta menguasai berbagai jenis senjata.
Selain memiliki kemampuan militer, ia juga dikenal sebagai pribadi yang taat beragama. Salat lima waktu dijaga dengan baik, rutin melaksanakan puasa Senin-Kamis, gemar membaca Al-Qur’an, serta memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat kecil. Di sisi lain, ia tetap menjunjung tinggi adat istiadat dan falsafah budaya Jawa.
Menjadi Pangeran Mangkubumi
Setelah wafatnya pamannya yang bergelar Pangeran Mangkubumi, Raden Mas Sujana diangkat menggantikannya pada 29 November 1730 dan kemudian dikenal sebagai Pangeran Mangkubumi.
Dalam kedudukannya tersebut, ia menjadi salah satu tokoh penting di Keraton Surakarta. Ia memberikan dukungan penuh kepada kakaknya, Susuhunan Pakubuwana II, terutama ketika kerajaan menghadapi berbagai konflik politik.
Pangeran Mangkubumi juga memiliki perhatian besar terhadap seni arsitektur. Sejumlah sumber sejarah menyebutkan bahwa ia turut berperan dalam perancangan bangunan inti Keraton Surakarta Hadiningrat.
Perlawanan terhadap VOC
Hubungan Pangeran Mangkubumi dengan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) semakin memburuk akibat campur tangan Belanda dalam urusan internal Keraton Surakarta.
Perselisihan tersebut mencapai puncaknya ketika VOC dianggap merendahkan martabatnya. Pangeran Mangkubumi akhirnya meninggalkan keraton dan memulai perjuangan bersenjata melawan VOC bersama para pendukungnya.
Perlawanan yang berlangsung selama bertahun-tahun akhirnya berujung pada lahirnya Perjanjian Giyanti yang ditandatangani pada 13 Februari 1755. Perjanjian ini membagi Kerajaan Mataram menjadi dua kekuasaan, yakni Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.
Berdirinya Kesultanan Yogyakarta
Setelah Perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi dinobatkan sebagai raja pertama Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada 13 Maret 1755.
Beliau menggunakan gelar lengkap:
“Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Satunggal ing Ngayogyakarta Hadiningrat.”
Sejak saat itu dimulailah sejarah Kesultanan Yogyakarta yang terus bertahan hingga sekarang.
Membangun Yogyakarta dengan Filosofi Jawa dan Islam
Selama memerintah pada 1755–1792, Sri Sultan Hamengkubuwana I membangun fondasi Kesultanan Yogyakarta.
Beliau merancang tata letak keraton, alun-alun, jalan utama, hingga berbagai bangunan penting dengan memperhatikan filosofi Jawa yang sarat makna spiritual.
Salah satu peninggalannya yang paling terkenal adalah Taman Sari, kompleks istana air yang menjadi mahakarya arsitektur Kesultanan Yogyakarta.
Dalam bidang keagamaan, Sultan juga memberikan perhatian besar terhadap perkembangan Islam. Ia membangun berbagai masjid serta memberikan tanah kepada Kiai Nur Iman di Mlangi sebagai pusat dakwah dan pendidikan Islam. Bahkan beberapa putranya pernah menimba ilmu di pesantren yang diasuh Kiai Nur Iman.
Wafat
Sri Sultan Hamengkubuwana I wafat pada 24 Maret 1792 dalam usia 75 tahun.
Jenazahnya dimakamkan di Astana Kasuwargan, Kompleks Makam Raja-Raja Imogiri (Astana Pajimatan Imogiri), Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Keluarga
Sri Sultan Hamengkubuwana I memiliki seorang permaisuri utama, yaitu Gusti Kanjeng Ratu Kencana, serta sejumlah garwa selir sebagaimana tradisi kerajaan pada masa itu.
Dari pernikahan-pernikahan tersebut lahir banyak putra dan putri yang kemudian menjadi tokoh penting dalam sejarah Yogyakarta. Di antaranya:
– Raden Mas Sundara (Raden Mas Timur) yang kemudian menjadi Sri Sultan Hamengkubuwana II.
– Bandara Pangeran Arya Nata Kusuma, yang kelak dikenal sebagai Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam I, pendiri Kadipaten Pakualaman.
– Sejumlah putra-putri lainnya yang memegang jabatan penting di lingkungan Kesultanan Yogyakarta.
kepemimpina
Warisan Sejarah
Sri Sultan Hamengkubuwana I dikenang sebagai negarawan, panglima perang, sekaligus pemimpin spiritual yang berhasil memadukan nilai-nilai Islam, budaya Jawa, dan sistem pemerintahan dalam satu kesatuan yang kokoh.
Warisan beliau tidak hanya berupa bangunan bersejarah seperti Keraton Yogyakarta dan Taman Sari, tetapi juga falsafah hidup masyarakat Yogyakarta yang menjunjung tinggi keseimbangan antara agama, budaya, dan kepemimpinan.
Hingga kini, nama Sri Sultan Hamengkubuwana I tetap dikenang sebagai salah satu tokoh terbesar dalam sejarah Nusantara dan pendiri Kesultanan Yogyakarta yang memberikan pengaruh besar bagi perjalanan bangsa Indonesia.
#Supriono #Riosanjaya #Fokusinews.com #PenajiwaTV





