Mengajar di Tengah Keterbatasan: Kisah Guru Honorer Bima Sulap Alam Jadi Kelas Olahraga yang Inspiratif

Semangat Belajar PJOK di Tengah Keterbatasan, Siswa SD Antusias Berlari Bersama Guru

BIMA, Fokusinews.com —Menjadi seorang pendidik di daerah terpencil menuntut kreativitas tanpa batas. Di saat fasilitas sekolah serba terbatas, semangat mengajar seorang guru honorer mampu mengubah alam sekitar menjadi ruang kelas yang menyenangkan. Cerita inilah yang dibagikan oleh Asfaran, S.Pd., seorang guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di SDN Oi Cere, Dusun Jati, Desa Kowo, Kecamatan Sape, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Foto Dermaga Dusun Nanga Pambu Belajar di Luar Kelas: Lari Bersama Menjelajah Alam Desa Buncu

​Bagi Asfaran, pembelajaran olahraga tidak harus selalu terpaku di halaman sekolah yang sempit. Pada Kamis (22/10/2026), ia mengajak anak-anak didiknya keluar dari rutinitas kelas untuk melakukan aktivitas lari bersama menyusuri rute di sekitar perkampungan.

​Kegiatan yang dimulai pukul 08.00 hingga 10.30 WITA tersebut berlangsung di bawah terik matahari dengan suhu sekitar 31 derajat Celsius. Meski melelahkan, rute luar sekolah yang menyuguhkan pemandangan alam desa membuat para siswa tampak begitu antusias. Kios-kios kecil di sepanjang jalur perjalanan juga menjadi tempat beristirahat sejenak bagi siswa untuk melepas dahaga dan memulihkan cairan tubuh.

Keceriaan tersebut terpancar jelas dari ekspresi para siswa. Salah seorang siswi kelas IV, Rara, mengaku sangat menikmati metode belajar yang dinamis ini.

​“Senang, Pak, kalau olahraga di luar sekolah. Bisa lari bersama teman-teman dan melihat suasana di luar. Capek memang, tetapi seru karena dilakukan bersama-sama,” ungkap Rara dengan penuh semangat.

 

Aktivitas luar ruangan tentu memerlukan perencanaan yang matang, mulai dari memperhitungkan ketahanan fisik siswa, faktor cuaca, ketersediaan air minum, hingga keamanan jalur yang dilalui. Bagi Asfaran, keterbatasan fasilitas sekolah bukanlah alasan untuk menyerah atau menyampaikan materi seadanya.

​Sebagai seorang guru honorer, ia dituntut untuk terus berinovasi memodifikasi materi PJOK—mulai dari permainan gerak sederhana hingga aktivitas berbasis lingkungan—agar siswa tetap mendapatkan hak mereka dalam mengasah kebugaran jasmani, kedisiplinan, serta kerja sama tim.

Di balik lelahnya mendampingi siswa, terdapat kebahagiaan yang tidak selalu dapat diukur dengan materi. Seorang guru dapat merasa bangga ketika melihat anak didiknya tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berkarakter, dan mampu meraih kesuksesan di masa depan.

​“Begitulah kehidupan guru honorer. Kita berusaha memberikan yang terbaik dengan segala keterbatasan yang ada. Bagi saya, kebahagiaan seorang guru adalah ketika melihat murid-muridnya berhasil, bukan hanya sukses di dunia, tetapi juga memiliki bekal untuk kehidupan akhirat,” tutur Asfaran penuh makna.

 

​Kisah dari SDN Oi Cere ini memberikan hikmah mendalam bagi dunia pendidikan kita: bahwa pendidikan sejati tidak dibatasi oleh dinding kelas atau mewahnya fasilitas. Dengan ketulusan hati, kreativitas, dan cinta kasih seorang pendidik, keterbatasan justru menjadi jalan lahirnya generasi bangsa yang tangguh dan berjiwa besar. (***)

 

 

Editor : SS

Kaperwil NTB: Asfaran

Pos terkait