TANJUNG SELOR, FOKUSINEWS.COM – Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara), Dr. H. Zainal A. Paliwang, S.H., M.Hum., secara resmi membuka Musyawarah Daerah Luar Biasa (Musdalub) Dewan Adat Dayak (DAD) Kaltara tahun 2026. Acara berlangsung khidmat di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Jumat (29/5/2026).
Sebagai bentuk penghormatan dan simbolis dukungan terhadap pelestarian budaya, panitia Musdalub menyematkan atribut adat Dayak kepada gubernur. Zainal dipasangkan kalung, rompi motif adat Dayak, serta senjata tradisional mandau. Prosesi ini menandai dukungan kuat pemerintah dalam bersinergi dengan lembaga adat.
Musdalub DAD Kaltara kali ini tergolong istimewa karena dihadiri jajaran tokoh penting dan petinggi adat, antara lain:
· Ingkong Ala (Wakil Gubernur Kaltara)
· Marthin Billa (Presiden Majelis Adat Dayak Nasional)
· Syarwani (Bupati Bulungan)
· H. Achmad Djuprie (Ketua DPRD Kaltara)
· Henoch Merang (Ketua Lembaga Adat Dayak Kaltara)
Acara juga dipadati tokoh masyarakat, perwakilan pemuda, serta jajaran forkopimda setempat.

Prosesi pembukaan ditandai dengan pemukulan gong oleh Gubernur Zainal didampingi Presiden MADN Marthin Billa dan jajaran tokoh adat lainnya. Pemukulan gong disambut tepuk tangan meriah serta pertunjukan tarian tradisional khas Dayak.
Dalam sambutannya, Gubernur Zainal menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya musyawarah ini. Ia berharap momentum Musdalub dapat melahirkan kepengurusan yang solid, program kerja yang relevan dengan perkembangan zaman, serta mempererat tali persaudaraan dan keharmonisan antarsuku di Kalimantan Utara.
“Musyawarah Daerah Luar Biasa ini bukan sekadar pergantian pengurus, melainkan panggilan suci untuk merawat warisan leluhur agar tetap berdiri kokoh di tengah arus modernisasi. Saya berharap DAD Kaltara ke depan lahir dengan kepengurusan yang tidak hanya solid secara struktur, tetapi juga relevan secara program. Jadikan budaya Dayak sebagai ruh pembangunan daerah, karena di Tanah Benuanta ini, tidak ada harmoni tanpa persaudaraan antarsuku.”
“Mari kita buktikan bahwa adat bukanlah penghalang kemajuan, melainkan pondasi utama menuju Kalimantan Utara yang bermartabat, sejahtera, dan penuh toleransi.”
Editor : FN – AR






