Padi Gogo Raimbawi Berbuah Hasil, DPRK Yapen Dorong Pemerintah Dukung Alat Produksi

Kepulauan Yapen – Pertanian padi Gogo yang dikembangkan secara swadaya masyarakat di Distrik Raimbawi, Kabupaten Kepulauan Yapen, mulai menunjukkan hasil. Lahan yang dibuka dan dikelola masyarakat dengan keterbatasan sarana tersebut kini memasuki masa panen dan dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber pangan sekaligus usaha ekonomi masyarakat.

Anggota DPRK Kepulauan Yapen, Mikha Runaweri, SE, yang melihat langsung kondisi lahan pertanian masyarakat pada Senin (21/09/2026), serta mendorong pemerintah daerah memberikan dukungan berupa bibit, pupuk, obat tanaman, serta peralatan pertanian dan pengolahan hasil.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Menurut Mikha, hasil yang terlihat di lapangan menunjukkan bahwa masyarakat Raimbawi memiliki kemampuan untuk mengembangkan padi apabila didukung sarana yang memadai.

“Lahan ini dibuka oleh masyarakat dan dikerjakan secara swadaya. Bibit dan kebutuhan lainnya juga swadaya, dengan peralatan sederhana milik pribadi. Hasilnya lumayan dan sekarang tinggal menunggu panen,” ujar Mikha.

Ia menyebut lahan sekitar setengah hektare di Kampung Sewendui telah menghasilkan tanaman padi yang dinilai baik. Selama ini hasil panen masih digunakan terutama untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga.

Karena itu, Mikha mendorong agar lahan tersebut dapat dikembangkan menjadi satu hingga dua hektare atau lebih dengan dukungan pemerintah.

Menurut Mikha, persoalan utama bukan hanya pada proses budidaya, tetapi juga pada pengolahan hasil panen. Masyarakat membutuhkan peralatan seperti mesin perontok, mesin penggiling dan mesin pengering agar hasil pertanian dapat dikelola secara lebih efektif.

“Peralatan produksi juga belum ada. Perlu dibantu seperti mesin penggiling, mesin rontok, mesin jemur dan lain-lain supaya proses bisnis bisa diurus dengan baik,” katanya.

Ia menilai bantuan pemerintah sebaiknya diberikan sebagai stimulan kepada masyarakat yang telah menunjukkan kerja nyata.

“Jadi tidak menunggu bantuan pemerintah saja atau BLT, tetapi ada kerja yang nyata seperti ini. Hasilnya pun dinikmati,” tegasnya.

Mikha juga menyatakan akan menyampaikan kondisi tersebut kepada Bupati Kepulauan Yapen dan OPD terkait agar pengembangan pertanian masyarakat Raimbawi mendapat perhatian.

Potensi serupa ditemukan pada lahan masyarakat di wilayah yang berdekatan. Mikha meninjau lahan milik Mambay Sen, Kepala Suku di Kampung Paparu, yang juga dikembangkan secara mandiri.

Di lahan tersebut masyarakat menanam padi jenis Betet dengan bibit, pupuk dan peralatan yang disiapkan secara swadaya.

Mikha menyebut hasil tanaman menunjukkan bahwa kondisi tanah di wilayah tersebut mendukung pengembangan pertanian padi.

“Hampir tiga setengah hektare sudah tinggal panen. Ini luar biasa. Ternyata cocok. Karena itu saya berharap ada perhatian dari pemerintah dan OPD terkait supaya masyarakat bisa dibantu untuk bertani seperti ini,” ujarnya.

Sebagian hasil panen bahkan telah dirontokkan menjadi gabah. Kondisi tersebut menurut Mikha menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya mampu menanam, tetapi juga telah menghasilkan pangan dari lahan sendiri.

Ia mendorong keberhasilan tersebut menjadi contoh bagi masyarakat lainnya agar berani membuka dan mengembangkan lahan pertanian.

“Kalau tidak pernah menanam, tidak akan pernah panen,” katanya.

Mikha juga menyebut pengelolaan lahan secara berkelanjutan berpotensi memungkinkan masyarakat melakukan beberapa kali masa tanam dan panen dalam setahun, meski hal tersebut tetap bergantung pada kondisi lahan, varietas, pengelolaan dan faktor lainnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Kepulauan Yapen, Jeffry Max Boy Manderi, SE, membenarkan bahwa pihaknya telah turun langsung meninjau lokasi pertanian padi gogo di Sewendui.

Jeffry mengatakan, pada 4 September 2026, dirinya bersama Kepala Bidang Hortikultura dan staf telah melihat langsung kondisi lahan serta proses pertanian masyarakat di lokasi tersebut.

“Hari tanggal 4 September 2026 kemarin, saya dan Kabid Horti beserta staf sudah sampai ke lokasi padi gogo di Sewenui dan sudah lihat langsung di lapangan,” kata Jeffry.

Dari hasil peninjauan, salah satu kendala yang ditemukan adalah keterbatasan alat perontok padi. Saat ini kelompok tani masih menggunakan mesin perontok berukuran kecil.

“Kendala yang dihadapi, mesin perontok masih menggunakan mesin perontok kecil,” jelasnya.

Jeffry menambahkan, kelompok tani tersebut sedang diupayakan untuk masuk dalam aplikasi Gapoktan Simultan sebagai bagian dari proses pemrograman dan tindak lanjut dukungan pertanian.

“Sedang diusahakan untuk dimasukkan dalam aplikasi Gapoktan Simultan. Sedang diprogramkan untuk ditindaklanjuti,” tambahnya.

Dukungan terhadap pertanian padi gogo di Raimbawi dinilai penting karena masyarakat telah memulai usaha tersebut secara mandiri. Pemerintah kini diharapkan dapat memperkuat apa yang sudah dilakukan masyarakat melalui penyediaan sarana produksi, teknologi pascapanen dan pendampingan.

Jika dukungan tersebut berjalan, hasil pertanian tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi produktif.

Mikha berharap masyarakat tidak selamanya bergantung pada bantuan sosial, tetapi dapat memiliki sumber pendapatan melalui usaha pertanian yang dikelola secara berkelanjutan.

“Suatu saat nanti orang Pantelori tidak perlu membeli beras di Serui atau Dawai lagi, karena bisa makan beras hasil tanam sendiri,” tutupnya.

Pos terkait