Editor: (SS)
TARAKAN, Fokusinews.com — Kamis, 13 Agustus 2026. Memasuki pagi yang penuh berkah dan kebaikan, rubrik Renungan Pagi Fokusinews.com menghadirkan pencerahan rohani yang sarat makna dari Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Tarakan, Drs. KH. Abdul Samad, Lc., M.Pd.I.
Mengusung tema utama “Menjaga Hati”, pesan moral ini mengajak seluruh pembaca untuk senantiasa membersihkan jiwa, merawat kejernihan pikiran, serta menebar kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam ajaran Islam, hati memegang kendali penuh atas baik buruknya seluruh perbuatan manusia. Rasulullah SAW pernah berpesan melalui sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim:
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging; jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itulah hati.”
Hati yang terjaga dengan baik akan menuntun seseorang untuk mudah memaafkan, tidak mudah curiga, tidak mudah merasa iri, dan tidak senang melihat orang lain jatuh. Sebaliknya, hati yang lalai dijaga akan membuat seseorang sibuk mencari kesalahan orang lain sembari melupakan kekurangan diri sendiri.
Terkadang, masalah utama manusia bukanlah kekurangan ilmu pengetahuan, melainkan kekurangan kebersihan hati. Hal ini terlihat dari sulitnya mengakui kebenaran yang datang dari orang yang tidak disukai, ego yang selalu ingin menang, hingga jebakan jabatan yang membuat seseorang merasa paling pantas dan berjasa.
KH. Abdul Samad mengingatkan agar umat Islam tidak lekas berbangga diri merasa hatinya sudah bersih hanya karena rajin beribadah. Ukuran nyata kebersihan hati justru tercermin dari bagaimana seseorang memperlakukan orang lain yang memiliki perbedaan pendapat dengannya.
“Hati yang bersih tidak berarti tidak pernah kecewa. Hati yang bersih adalah hati yang tidak menjadikan kekecewaan sebagai alasan untuk berbuat zalim,” pesannya.
Oleh karena itu, mengawali aktivitas pagi hari dianjurkan untuk melakukan instrospeksi diri dengan mengajukan pertanyaan mendasar kepada hati nurani:
- Apa yang sedang memenuhi hati kita saat ini?
- Apakah syukur atau keluhan?
- Apakah kasih sayang atau kebencian?
- Apakah keikhlasan atau kepentingan pribadi?
- Apakah persaudaraan atau permusuhan?
Pada akhirnya, segala atribut duniawi seperti jabatan, popularitas, maupun pujian manusia tidak akan menjadi penentu keselamatan di akhirat. Harta dan anak-anak tidak lagi memberikan manfaat kecuali bagi mereka yang datang menghadap Sang Pencipta dengan membawa hati yang bersih.
Hal ini termaktub dalam Al-Qur’an melalui firman Allah SWT dalam Surah Asy-Syu‘arā’ ayat 88–89:
يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
Artinya: “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi bermanfaat, kecuali orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang bersih.”
Menjaga hati akan melahirkan pikiran yang jernih, lisan yang santun, sikap yang bijak, serta kehidupan yang penuh berkah. Sebagai penutup renungan, mari memanjatkan doa agar senantiasa dibersihkan dari sifat tercela:
“Ya Allah, bersihkan hati kami dari iri, dengki, sombong, dendam, dan prasangka buruk. Hiasi hati kami dengan ikhlas, sabar, syukur, kasih sayang, dan kerendahan hati. Jadikan perbedaan sebagai jalan untuk saling memahami, bukan alasan untuk saling membenci. Aamiin.”
Selamat pagi dan selamat beraktivitas. Semoga hari ini hati kita jauh lebih bersih daripada kemarin, karena esensi keindahan sejati terletak pada indahnya hati di hadapan Allah SWT. (SS)
Laporan : Sahbudiman





