Sampaikan Nasihat Imam Syafi’i dari Kandang Kambing, Fenomena Bang Faiq Dinilai Jadi Penawar Kejenuhan Konten Rekayasa

Tarakan, Fokusinews.com– Fenomena melejitnya popularitas Faiq Al Katiri atau Bang Faiq (@bangfaiq_batu), pedagang kambing asal Kota Batu, Jawa Timur, terus menyedot perhatian publik. Sejak akun Instagram miliknya dibuat pada Jumat (17/07/2026), hanya dalam waktu sepekan, angka pengikutnya melonjak drastis hingga menembus lebih dari 178 ribu pengikut pada Jumat (24/07/2026).

​Bukan sekadar membagikan aktivitas harian memotong atau merawat kambing, daya tarik utama Bang Faiq terletak pada konsistensinya menyelipkan pesan-pesan moral Islami yang menyentuh hati. Salah satu kutipan indah yang sering disampaikannya adalah nasihat mashur dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullah :

“Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal kebaikan, maka engkau akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia.”

Menanggapi fenomena tersebut, akademisi bidang media dan komunikasi digital, Dr. (Cand) H. Muhammad, S.Kom., M.Kom. (Pak Muh), menilai bahwa meledaknya akun Bang Faiq merupakan bukti kejenuhan masyarakat terhadap industri konten digital saat ini.

​”Fenomena Bang Faiq menjadi pengingat bahwa di era algoritma media sosial, autentisitas masih memiliki nilai yang sangat tinggi. Selama beberapa tahun terakhir, publik dibanjiri konten yang bersifat rekayasa, sensasional, dan sekadar mengejar viralitas semata. Kondisi ini memicu digital content fatigue atau kejenuhan publik terhadap konten yang terasa dibuat-buat,” papar Pak Muh, Jumat (24/07/2026).

​Menurut Pak Muh, kehadiran sosok Bang Faiq yang tampil apa adanya tanpa pencitraan berlebihan justru berhasil membangun trust (kepercayaan) yang kuat di mata publik. Dalam ekosistem digital saat ini, kepercayaan merupakan ‘mata uang’ yang jauh lebih berharga dibandingkan sekadar jumlah pengikut.

Lebih lanjut, Pak Muh menjelaskan bahwa dari perspektif komunikasi digital, viralitas berkelanjutan (organic engagement) ditentukan oleh human values (nilai-nilai kemanusiaan). Konten yang lahir dari pengalaman nyata, kesederhanaan, kerja keras, dan niat berbagi manfaat akan selalu menang melawan konten drama.

 ​”Bagi para kreator digital, fenomena ini memberi pelajaran bahwa algoritma memang membantu menyebarkan konten, tetapi yang membuat audiens bertahan adalah karakter, integritas, dan konsistensi. Kreativitas tidak harus mahal atau penuh drama, yang dibutuhkan adalah keberanian menjadi diri sendiri,” tegasnya.

Sebagai penutup, Pak Muh menambahkan sudut pandang nilai spiritual dari fenomena ini. Ketika seorang muslim meniatkan usahanya untuk menyebarkan kebaikan dan menjemput rezeki halal, Allah SWT akan membuka jalan dari arah yang tak disangka-sangka.

​”Di tengah persaingan memenangkan attention algorithm, publik ternyata tidak mencari kesempurnaan, melainkan keaslian. Algoritma menyukai angka dan klik, tetapi manusia mempercayai kejujuran dan manfaat nyata. Konten terbaik bukanlah yang paling banyak ditonton, melainkan yang paling mampu membangun kepercayaan,” pungkasnya. (SS)

Laporan:  Sahbudiman

Pos terkait