Yayasan Bengkel Kerja Papua Latih 72 Warga Jemaat GKI Pniel Serui Pantai Olah Sagu Menjadi Produk Bernilai Ekonomi, Reinhart: Jaga Hutan Sagu, Jaga Masa Depan Papua

SERUI – Sebanyak 72 warga Jemaat GKI Pniel Serui Pantai mengikuti pelatihan pengolahan pangan lokal berbahan dasar sagu yang diselenggarakan oleh Yayasan Bengkel Kerja Papua. Dalam pelatihan tersebut, peserta dibekali keterampilan mengolah sagu menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, seperti brownies, mi kwetiau, dan es krim.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan potensi pangan lokal sekaligus mendorong lahirnya pelaku usaha berbasis sagu yang mampu meningkatkan kesejahteraan Orang Asli Papua.

Saat diwawancarai pada Kamis (16/07/2026), narasumber pelatihan, Reinhart Ramandei, menegaskan bahwa sagu bukan sekadar bahan pangan tradisional, melainkan kekayaan alam sekaligus identitas Orang Asli Papua yang diwariskan oleh leluhur dan harus dijaga sepanjang masa.

“Sagu adalah kekayaan Orang Asli Papua yang Tuhan tumbuhkan di atas Tanah Papua. Ini adalah warisan leluhur yang tidak ternilai harganya. Menjaga hutan sagu berarti menjaga kehidupan, budaya, dan masa depan orang Papua. Jika hutan sagu rusak atau hilang, maka kita sedang kehilangan salah satu jati diri Papua,” tegas Reinhart.

Menurutnya, sudah saatnya masyarakat Papua berhenti memandang sagu sebagai makanan sederhana. Dengan inovasi dan teknologi, sagu mampu diolah menjadi berbagai produk modern yang memiliki nilai jual tinggi dan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

“Papua tidak akan maju jika terus bergantung pada produk dari luar, sementara kekayaan yang Tuhan titipkan di tanah ini kita abaikan. Sagu mampu menjadi brownies, mi, es krim, tepung, hingga berbagai produk industri. Dari sagu, Orang Asli Papua bisa bangkit, mandiri, dan sejahtera apabila mau mengelolanya dengan sungguh-sungguh,” ujarnya.

Reinhart juga mengajak seluruh masyarakat, pemerintah, gereja, generasi muda, dan pemilik hak ulayat untuk bersatu menjaga hutan sagu dari kerusakan, pembukaan lahan yang tidak terkendali, serta berbagai aktivitas yang mengancam kelestariannya.

“Mari kita hentikan sikap yang membiarkan hutan sagu hilang sedikit demi sedikit. Jangan sampai anak cucu Papua hanya mendengar cerita bahwa leluhur mereka pernah memiliki hutan sagu yang luas. Menjaga alam Papua adalah tanggung jawab kita bersama, karena ketika hutan sagu tetap lestari, maka kehidupan Orang Asli Papua juga akan tetap terjaga,” katanya.

Ia menegaskan bahwa pengelolaan sagu harus menjadi gerakan bersama agar Orang Asli Papua menjadi pelaku utama dalam mengelola kekayaan alamnya sendiri, bukan hanya menjadi penonton di atas tanah warisan leluhur.

 

Menutup keterangannya, Reinhart menyampaikan pesan yang kuat kepada seluruh masyarakat Papua.

“Sagu bukan hanya makanan, tetapi simbol kehidupan Orang Asli Papua. Menjaga sagu berarti menjaga alam Papua. Menjaga alam Papua berarti menjaga masa depan generasi Papua. Jangan biarkan kekayaan ini rusak atau dikuasai pihak lain karena kelalaian kita sendiri. Sudah waktunya Orang Asli Papua berdiri di atas kekayaan alamnya sendiri, mengelolanya dengan bijaksana, dan menjadikannya jalan menuju Papua yang maju, bangkit, mandiri, dan sejahtera

Pos terkait