PANDEGLANG — Tanah tempat kami dilahirkan tak lagi memancarkan warna hijau kehidupan. Di Desa Tembong, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, bentangan sawah yang dulunya menjadi kebanggaan dan sumber kehidupan kini telah mati. Selama hampir dua dekade 18 tahun berturut-turut tanggul yang jebol dan jalur irigasi yang hancur dibiarkan membusuk tanpa tersentuh perbaikan.
Ketiadaan air memaksa para petani mengambil langkah keputusasaan mengalihfungsikan lahan secara paksa dari padi ke palawija. Ini bukan pilihan, melainkan bentuk bertahan hidup di tengah kelalaian yang terstruktur.
Tragisnya, anak-anak kecil di Desa Tembong kini tumbuh tanpa pernah melihat indahnya hamparan padi di desa mereka sendiri. Generasi baru ini asing dengan identitas tanah kelahirannya sebagai lumbung kehidupan.
“Lengkap sudah penderitaan warga”
Tak hanya air yang dirampas, bantuan akses jalan pertanian pun tak pernah menyapa Desa Tembong. Para petani harus memikul hasil panen palawija yang tak seberapa melewati jalur darurat yang rusak dan berbahaya.
”Anak-anak kami sekarang cuma tahu talas dan singkong di tanah kering ini. Mereka tak pernah lagi melihat padi menguning di Desa Tembong. Kami diabaikan—irigasi rusak tak diperbaiki, jalan tani pun tak pernah dibangunkan.
Apakah kami bukan bagian dari negeri ini Jeritan salah seorang petani Desa Tembong dengan mata berkaca-kaca menatap tanahnya yang gersang.
Duka Menahun dan Luka yang Tak Terobati
Kerusakan irigasi selama 18 tahun dan ketiadaan infrastruktur dasar telah menorehkan luka mendalam bagi masyarakat Desa Tembong.
Hilangnya Identitas Sawah Padi Alih fungsi lahan secara masif merusak ekosistem pertanian lokal dan mengancam ketahanan pangan daerah.
Generasi yang Terasing dari Tanah Kelahirannya Anak-anak Desa Tembong kehilangan ingatan visual dan ikatan budaya dengan tradisi menanam padi.
Isolasi Ekonomi & Infrastruktur Ketiadaan pembangunan jalan tani membuat biaya angkut hasil pertanian melambung tinggi, mencekik ekonomi warga yang sudah terpuruk.
Setiap bulir keringat yang jatuh di atas jalan setapak yang rusak dan tanah yang membatu adalah saksi bisu betapa panjangnya masa pembiaran ini. 18 tahun bukanlah waktu untuk menunggu, tapi waktu yang sudah terlalu lama untuk diabaikan.
Tuntutan Tegas Warga Desa Tembong
Melalui rilis pers ini, masyarakat dan kaum tani Desa Tembong, Kecamatan Carita, menuntut tindakan nyata dan seketika dari Pemerintah provinsi Banten dinas pertanian provinsi Banten pemerintah kabupaten, Kabupaten Pandeglang, Dinas PUPR, Dinas Pertanian, serta instansi terkait.
Perbaikan Total Tanggul & Saluran Irigasi: Turunkan alat berat dan alokasikan anggaran nyata untuk merevitalisasi jaringan irigasi yang hancur agar air kembali mengalir dan sawah padi bisa dihidupkan kembali.
Pembangunan Infrastruktur Jalan Tani Berikan hak akses jalan yang layak bagi petani untuk mengangkut hasil bumi tanpa harus bertaruh keselamatan.
Program Pemulihan & Bantuan Pertanian: Berikan pendampingan, bantuan modal, serta sarana produksi pertanian untuk memulihkan taraf hidup warga Desa Tembong.
Jangan biarkan Desa Tembong tenggelam dalam keputusasaan. Petani tidak butuh janji manis di atas kertas petani butuh air mengalir dan jalan yang layak hari ini juga! Kembalikan sawah kami, kembalikan masa depan anak-anak kami pungkasnya (irgi)





