Merasa Diabaikan semua keluhanya Aliansi Mahasiswa Unsika Demo di Gedung Opon

Fokusnes.com Sabtu 16 mei 2026

aliansi keluarga besar mahasiswa unsika bersatu gerudug gedung opon mereka kecewa dengan fasilitas yang ada di kampus unsika sambil menempel spanduk di bangunan fakultas yang di anggap mahasiswa sudah tidak layak lagi

“Selama ini kampus selalu berbicara soal prestasi, akreditasi, dan citra institusi. Tapi yang jarang benar-benar didengar adalah suara mahasiswa yang hidup dan berjuang setiap hari di dalam sistem itu sendiri.”

Kalimat itu disampaikan Nazal mahasiswa saat diwawancarai awak media di depan gerbang Universitas Singaperbangsa Karawang terkait berbagai persoalan fasilitas dan birokrasi kampus yang dinilai semakin jauh dari kebutuhan mahasiswa

Dengan nada tenang namun penuh kekecewaan, ia mengaku banyak mahasiswa merasa lelah menghadapi kondisi kampus yang menurutnya sering abai terhadap realitas mahasiswa di lapangan.

“Mahasiswa diminta aktif, kritis, produktif, bahkan membawa nama baik kampus. Tapi ketika mahasiswa mengeluhkan fasilitas rusak, pelayanan lambat, atau birokrasi yang berbelit, responnya sering kali tidak serius. Seolah mahasiswa hanya dibutuhkan ketika kampus ingin menunjukkan pencapaian.”

Ia menyoroti beberapa persoalan yang menurutnya terus berulang dari tahun ke tahun. Mulai dari ruang kelas yang kurang layak, fasilitas penunjang akademik yang minim, akses administrasi yang menyulitkan, hingga lambatnya respon terhadap aspirasi mahasiswa.

“Kita bicara soal kampus negeri yang seharusnya menjadi ruang tumbuh intelektual. Tapi kenyataannya masih banyak mahasiswa yang harus berjuang dengan fasilitas seadanya. Ada yang kesulitan mengurus administrasi berhari-hari, ada yang merasa dipingpong birokrasi, bahkan ada yang memilih diam karena merasa suaranya tidak akan mengubah apa-apa.”

Menurutnya, persoalan terbesar bukan hanya pada fasilitas fisik, melainkan cara institusi memandang mahasiswa.

“Kadang mahasiswa diposisikan hanya sebagai objek administrasi, bukan manusia yang punya keresahan dan kebutuhan. Ketika mahasiswa mengkritik, sering dianggap mengganggu stabilitas. Padahal kritik itu lahir karena rasa memiliki terhadap kampus itu sendiri

Ia juga menyinggung bagaimana banyak mahasiswa merasa kehilangan ruang dialog dengan pihak kampus.

“Yang mahasiswa butuhkan sebenarnya sederhana: didengar. Bukan sekadar forum formal atau seremonial, tapi komunikasi yang benar-benar terbuka. Karena hari ini banyak mahasiswa merasa kampus semakin jauh dari mereka.”

Di akhir wawancara, Nazal berharap kritik yang disampaikan tidak dianggap sebagai bentuk kebencian terhadap kampus, melainkan bentuk kepedulian.

“Kami tidak ingin menjatuhkan nama kampus. Justru karena kami bagian dari kampus ini, kami ingin Universitas Singaperbangsa Karawang benar-benar menjadi tempat yang berpihak kepada mahasiswa, bukan hanya kuat dalam slogan, tetapi juga hadir dalam kenyataan pungkasnya .

Ketika awak media konfirmasi via wa ke humas warek dua dan biro Belem ada jawabannya .

Penulis : JS

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *