JAKARTA – Pemerintah Indonesia memperkuat langkah strategis untuk menjamin ketersediaan pupuk yang terjangkau dan berkelanjutan bagi petani.
Upaya ini merupakan tindak lanjut atas arahan Presiden Prabowo Subianto agar negara hadir secara nyata dalam menurunkan biaya produksi pertanian sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani nasional.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan kerja sama internasional di sektor energi dan pertambangan, khususnya untuk mengamankan bahan baku pupuk.
Dalam kerangka itu, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono memimpin delegasi tingkat tinggi Indonesia melakukan pertemuan dengan Menteri Negara sekaligus Menteri Energi dan Pertambangan Aljazair, Mohamed Arkab, di Aljir, Selasa (20/1/2026).
Sudaryono menyampaikan, kunjungan kerja ke Aljazair yang berlangsung pada 19–21 Januari 2026 dilakukan bersama jajaran PT Pupuk Indonesia (Persero) sebagai bagian dari upaya strategis mengamankan pasokan bahan baku pupuk bagi kebutuhan nasional.
“Selama tiga hari ini kami melakukan kunjungan kerja ke Aljazair dalam kaitannya untuk mengamankan pasokan bahan baku untuk pupuk kita,” kata Sudaryono dikutip Rabu (21/1/2026).
Dalam pertemuan tersebut membahas penguatan kerja sama strategis antara Indonesia dan Aljazair di sektor hidrokarbon atau energi dan pertambangan, termasuk peluang kemitraan antara perusahaan kedua negara, terutama dalam pengembangan gas dan fosfat sebagai bahan baku utama pupuk.
Sudaryono menegaskan, langkah ini merupakan bagian dari mandat langsung Presiden Prabowo untuk membangun kemandirian pupuk nasional dan menekan biaya produksi pertanian.
“Bapak Presiden Prabowo Subianto memerintahkan kami memastikan pupuk tersedia dengan harga murah dan terjangkau bagi petani. Salah satu kuncinya adalah menjamin pasokan bahan baku pupuk melalui kerja sama strategis dengan negara sahabat seperti Aljazair,” ujar Sudaryono.
Menurut Sudaryono, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku pupuk perlu dikurangi melalui skema kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan, khususnya dalam pengamanan pasokan gas dan fosfat bagi industri pupuk nasional.
“Kerja sama ini bukan sekadar bisnis, tetapi bagian dari strategi besar negara untuk menurunkan biaya produksi pupuk, memperkuat industri dalam negeri, dan pada akhirnya meningkatkan produktivitas serta pendapatan petani,” tambahnya.
Lebih lanjut, pertemuan tersebut juga membahas prospek kerja sama antara Grup Sonarem beserta anak perusahaannya dengan Pupuk Indonesia dalam pengembangan proyek fosfat dan gas di Aljazair, mulai dari tahap eksploitasi, pengolahan, hingga pemasaran. Kerja sama ini diharapkan mampu menciptakan nilai tambah sekaligus memperkuat kapasitas produksi pupuk nasional Indonesia.
Sebagai tindak lanjut konkret, pada kesempatan yang sama dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Perusahaan Tambang Fosfat Aljazair Somiphos yang merupakan anak usaha Grup Sonarem, dengan PT. Pupuk Indonesia (Persero). MoU ini bertujuan untuk mempelajari dan mengembangkan peluang kerja sama di bidang fosfat sebagai bahan baku pupuk.
“Jadi kita ingin bagaimana bahan baku yang kita beli itu kemudian kita menguasai bahan baku di negara asal dan kemudian kita buat industrinya,” kata Sudaryono.
