Alumni Pertukaran Pemuda ASEAN 2005, Sampaikan Sembilan Pernyataan Sikap, Bandar Antariksa BRIN Di Biak

Biak-Papua. Fokusinews.com. Alumni Pertukaran Pemuda ASEAN Papua Tahun 2005, Mesak Mandowen, S.Pd., M.Pd., menyampaikan pernyataan sikap terbuka kepada Pemerintah Pusat terkait rencana pembangunan proyek Bandar Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di wilayah Warbon/Saukobye, Kabupaten Biak Numfor.

Pernyataan tersebut ditujukan kepada Prabowo Subianto, pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, pimpinan BRIN, Pemerintah Provinsi Papua, Pemerintah Kabupaten Biak Numfor, serta DPRK Biak Numfor.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Dalam keterangannya, Mesak menilai Biak memiliki potensi strategis di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi antariksa karena letaknya yang berada di wilayah khatulistiwa.

“Potensi Biak secara keilmuan dan sains sangat besar. Biak dapat menjadi ‘Emas Katulistiwa’ apabila dikelola secara benar, konsisten, dan berpihak kepada pembangunan sumber daya manusia masyarakat asli,” ujarnya.

Mesak menegaskan bahwa tanah ulayat masyarakat adat Warbon dan Saukobye bukanlah tanah kosong. Menurutnya, tanah tersebut merupakan warisan leluhur yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan identitas masyarakat adat.

Ia berpandangan bahwa apabila negara memanfaatkan tanah tersebut untuk kepentingan nasional, maka harus dilakukan dengan prinsip transparansi, penghormatan terhadap hak masyarakat adat, serta memberikan manfaat nyata bagi generasi muda Orang Asli Biak.

Dalam pernyataannya, Mesak menyampaikan sembilan poin utama kepada pemerintah dan BRIN, di antaranya:

  1. Meminta pemerintah membuka secara transparan isi nota kesepahaman (MoU), dokumen AMDAL, serta peta jalan (roadmap) pengembangan SDM bagi masyarakat asli Biak.
  2. Mendorong agar proyek Bandar Antariksa melahirkan ilmuwan, insinyur, dan tenaga profesional asal Biak, bukan hanya tenaga pendukung.
  3. Mengusulkan prioritas kesempatan kerja bagi masyarakat asli Biak, khususnya pemilik hak ulayat, pada posisi strategis dan berkelanjutan.
  4. Meminta pemerintah menyediakan program beasiswa bagi sedikitnya 100 putra-putri Biak untuk menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi unggulan dalam dan luar negeri pada bidang antariksa, teknologi, dan sains.
  5. Mengusulkan pembangunan SMK Antariksa di Biak dengan jurusan teknik peluncuran roket, elektronika satelit, serta meteorologi antariksa yang didukung tenaga pengajar profesional.
  6. Meminta program pengembangan SDM dimulai sebelum proyek memasuki tahap operasional.
  7. Mengusulkan adanya mekanisme evaluasi terhadap proyek apabila tidak berjalan sesuai rencana.
  8. Menolak perubahan fungsi lahan menjadi kawasan militer apabila proyek tidak terealisasi, serta meminta tanah dikembalikan kepada pemilik hak ulayat sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
  9. Meminta adanya mekanisme pertanggungjawaban apabila komitmen kepada masyarakat adat tidak dipenuhi.

Menurut Mesak, keberhasilan proyek Bandar Antariksa tidak hanya diukur dari berdirinya fasilitas peluncuran satelit, tetapi juga dari sejauh mana proyek tersebut mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia masyarakat asli Papua, khususnya generasi muda Biak.

“Kami mendukung pembangunan Bandar Antariksa untuk masa depan Indonesia. Namun kami juga ingin memastikan anak-anak Biak tidak menjadi penonton di tanah leluhurnya sendiri. Yang dibutuhkan adalah komitmen tertulis dan program nyata, bukan sekadar janji lisan,” tegasnya.

 

(Heri)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan