Menanam Harapan di Tengah Keterbatasan: Kisah Petani Kopi Ambaidiru Yapen Berdiri di Atas Kaki Sendiri

Yapen – Semangat untuk melestarikan kopi lokal terus ditunjukkan oleh Didimus Mora, putra asli Pegunungan Muman, Distrik Kosiwo, Kabupaten Kepulauan Yapen. Di tengah keterbatasan fasilitas dan modal usaha, ia tetap berjuang mengembangkan serta memasarkan kopi robusta lokal Ambaidiru yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat.

Tidak hanya menjual kopi yang siap diseduh dan dinikmati, Didimus juga fokus mengembangkan pembibitan kopi robusta untuk menjaga keberlangsungan tanaman kopi Ambaidiru. Dengan memanfaatkan bahan-bahan sederhana yang tersedia di sekitar, bahkan karung semen bekas digunakan sebagai wadah pembibitan sebelum bibit dipindahkan ke lahan perkebunan.

Sejak tahun 2018 hingga 2026, Didimus Mora sering berjalan kaki mengelilingi Kota Serui untuk menjual kopi Ambaidiru yang telah siap minum. Dengan membawa produknya secara langsung kepada masyarakat, ia berupaya memperkenalkan kopi lokal Yapen sekaligus meningkatkan minat masyarakat terhadap kopi Ambaidiru. Selain menjual kopi, dirinya juga menawarkan dan membagikan bibit kopi kepada masyarakat yang ingin mengembangkan perkebunan kopi rakyat.

Kerja keras tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian kopi lokal agar tetap tumbuh dan dikenal oleh generasi mendatang. Meski kopi Ambaidiru telah berhasil menembus pasar dunia, produksi yang tersedia hingga saat ini masih tergolong rendah sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam jumlah besar.

Untuk menjaga keberlanjutan kopi Ambaidiru, Didimus terus mengembangkan pembibitan dan menyalurkan bibit kopi ke sejumlah kampung seperti Soromasen, Yobi, Sambrawai, Tindaret, Manaona, dan Ariyobu. Upaya tersebut dilakukan guna mendorong masyarakat ikut menanam kopi sekaligus menjaga kelestarian komoditas unggulan daerah tersebut.

Didimus berharap Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen dapat memberikan dukungan kepada para petani kopi, terutama dalam bantuan biaya pembibitan dan pengembangan perkebunan. Menurutnya, dukungan pemerintah sangat diperlukan mengingat kopi Ambaidiru telah dikenal hingga pasar internasional, sementara para petani masih menghadapi keterbatasan produksi dan stok di lapangan.

“Kami berharap pemerintah dapat hadir membantu para petani kopi, khususnya dalam pembibitan. Potensi kopi Ambaidiru sangat besar, tetapi saat ini kami masih kesulitan memenuhi permintaan pasar karena keterbatasan produksi,” ujarnya.

Bagi Didimus, kopi bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan warisan alam dan budaya yang harus dijaga. Di balik secangkir kopi Ambaidiru, tersimpan kisah tentang ketekunan, kemandirian, dan perjuangan seorang petani lokal yang terus bekerja keras demi menjaga identitas kopi Yapen agar tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.

 

(Iqhi Aninam)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *