Biak Numfor-Papua. Fokusinews.Com. Memasuki hari ketiga pasca ledakan yang diduga berasal dari bom peninggalan Perang Dunia II di Kompleks Perikanan, Jalan Wolter Monginsidi, Kelurahan Fandoi, Distrik Biak Kota, jumlah korban meninggal dunia kembali bertambah.
Sementara itu, tiga korban lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang dan terus dalam proses pencarian oleh tim gabungan.
Hal tersebut disampaikan Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, S.H., S.I.K., M.H., dalam konferensi pers yang digelar Selasa malam 2 Juni 2026, bersama unsur Forkopimda, TNI-Polri, Basarnas, BPBD, dan Tim Jibom Gegana Polda Papua.
“Kami akan terus melakukan pencarian terhadap tiga korban yang hingga saat ini belum ditemukan. Fokus pencarian berada di ring dua, khususnya wilayah pantai dan perairan sekitar lokasi kejadian,” ujar Kapolres.
Menurutnya, area inti atau ring satu hingga kini masih dalam proses sterilisasi oleh Tim Jibom Gegana Polda Papua karena dinilai belum aman dari kemungkinan adanya material peledak lain yang masih tertanam di lokasi.
Sementara itu dilaporkan juga korban meninggal bertambah menjadi enam orang berdasarkan perkembangan terbaru, satu korban yang sebelumnya menjalani perawatan intensif di RSUD Biak dinyatakan meninggal dunia.
Korban diketahui bernama Mina puadi usia 51, seorang ibu rumah tangga yang berdomisili di Kompleks Perikanan, Jalan Wolter Monginsidi, Distrik Biak Kota.
“Dari dua korban yang sebelumnya dirawat inap, satu orang meninggal dunia pada hari ini. Dengan demikian jumlah korban meninggal dunia bertambah dari lima menjadi enam orang,” kata Kapolres.
Sementara itu, satu korban lainnya masih menjalani perawatan di RSUD Biak. Dari total 18 korban luka yang sebelumnya tercatat, sebanyak 16 orang menjalani rawat jalan dan masih berada dalam pemantauan medis.
Di tengah proses evakuasi dan pencarian korban, Tim Jibom Gegana Polda Papua kembali menemukan sejumlah material berbahaya yang diduga merupakan peninggalan perang.
Pada Selasa (2/6), petugas berhasil melakukan disposal atau pemusnahan terhadap satu granat nanas dan satu granat manggis yang ditemukan di sekitar lokasi ledakan.
Selain itu, tim juga mengamankan dua proyektil yang telah lebih dahulu diamankan dan dipisahkan amunisinya guna menghindari risiko ledakan susulan. Temuan tersebut semakin memperkuat dugaan bahwa kawasan tersebut masih menyimpan sisa-sisa amunisi peninggalan Perang Dunia II yang berpotensi membahayakan masyarakat.
Proses pencarian yang dilakukan Basarnas bersama tim gabungan juga membuahkan hasil. Pada hari ketiga operasi, petugas kembali menemukan lima potongan serpihan bagian tubuh manusia di kawasan ring dua. Temuan tersebut selanjutnya dievakuasi untuk proses identifikasi oleh tim forensik guna memastikan keterkaitannya dengan para korban yang masih dinyatakan hilang.
Kapolres Biak Numfor kembali mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mendekati area ring satu karena masih berstatus berbahaya dan belum dinyatakan steril oleh tim penjinak bom.
Selain itu, masyarakat yang menemukan atau menyimpan benda-benda mencurigakan yang diduga berupa bom, granat, amunisi, atau bahan peledak lainnya diminta segera melapor kepada aparat keamanan.
“Kami mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan benda yang diduga berbahaya. Jangan disentuh atau dipindahkan karena dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, operasi pencarian terhadap tiga korban yang masih hilang terus berlangsung. Aparat gabungan juga masih melakukan sterilisasi lokasi guna memastikan tidak ada lagi bahan peledak aktif yang tersisa di kawasan Kompleks Perikanan Biak.
Tragedi ini menjadi salah satu insiden paling serius yang terjadi di Biak Numfor dalam beberapa tahun terakhir dan menjadi pengingat bahwa sisa-sisa perang masa lalu masih dapat menimbulkan ancaman nyata bagi masyarakat hingga saat ini.
(Heri/Kaperwil)







