OPINI
Oleh: Budi Hariyanto
Setiap pergantian tahun Hijriah, umat Islam diajak untuk melakukan muhasabah (introspeksi) dan merancang langkah strategis ke depan. Pada Tahun Baru Islam 1448 H/2026 M ini, Kementerian Agama Republik Indonesia mengusung tema “Menebar Maslahat, Menguatkan Umat”. Tema ini bukan sekadar slogan seremonial, melainkan sebuah peta jalan moral yang sangat relevan dengan kondisi bangsa yang sedang berada di persimpangan kritis antara harapan dan kenyataan.
Pesan utama dari tema tersebut jelas: memperkuat persaudaraan (ukhuwah), menebarkan cinta kasih, menghadirkan kedamaian, serta mengikis ujaran kebencian. Namun, implementasi pesan-pesan luhur ini dihadapkan pada realitas sosial-ekonomi dan politik yang tidak sederhana. Kita dituntut untuk mengambil hikmah dan kebijaksanaan dalam menyikapi dua fenomena dominan saat ini: guncangan ekonomi yang menggerus moralitas, dan dinamika politik yang penuh tensi.
Ekonomi Guncang: Ketika Survival Mode Menggerus Moral
Fenomena pertama yang menjadi ujian bagi “penguatan umat” adalah guncangan ekonomi makro yang berdampak langsung pada kehidupan mikro masyarakat. Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS telah memicu inflasi biaya hidup. Harga-harga kebutuhan pokok melambung, daya beli masyarakat anjlok, dan rasa ketidakamanan ekonomi (economic insecurity) meluas.
Dalam kondisi “bertahan hidup” (survival mode) seperti ini, persaingan untuk memenuhi kebutuhan dasar menjadi sangat ketat. Sayangnya, kompetisi ekonomi yang tidak sehat sering kali bermuara pada dekadensi moral. Kita menyaksikan maraknya praktik penipuan berkedok investasi bodong, penggelapan dana, hingga eksploitasi tenaga kerja. Ketika perut lapar dan masa depan suram, etika sering kali menjadi korban pertama. Di sinilah letak urgensi tema “Menebar Maslahat”. Maslahat dalam konteks ekonomi berarti menolak keserakahan individualistik dan kembali pada prinsip ekonomi kerakyatan yang berbasis kejujuran (shiddiq) dan amanah. Umat harus diperkuat dengan literasi keuangan syariah dan semangat gotong royong ekonomi, seperti melalui koperasi atau komunitas usaha bersama, agar tidak terjebak dalam jerat lintah darat akibat tekanan ekonomi.
Politik Memanas: Kreativitas Solusi di Atas Hasrat Kekuasaan
Fenomena kedua adalah dinamika politik yang kondisinya menunjukkan kenaikan tensi. Polarisme opini, gesekan antar-elit, dan tuntutan publik yang semakin kritis menciptakan atmosfer yang rentan konflik. Pemerintah dituntut untuk responsif memberikan solusi atas masalah masyarakat secara “smooth” (halus, tepat sasaran, dan tanpa gejolak baru).
Namun, tantangan terbesar bukanlah kurangnya sumber daya, melainkan kurangnya kreativitas politik. Banyak persoalan bangsa masih diselesaikan dengan pendekatan kekuasaan (power approach)—siapa yang paling berkuasa, dialah yang menang—bukan dengan pendekatan kesejahteraan (welfare approach). Implementasi “Menghadirkan Kedamaian” dan “Mengikis Ujaran Kebencian” menuntut para pemimpin untuk berhijrah dari pola pikir politis transaksional menuju kepemimpinan yang melayani. Kreativitas diperlukan untuk memecahkan kebuntuan kebijakan. Misalnya, alih-alih hanya menaikkan subsidi yang membebani APBN, pemerintah perlu inovatif dalam menciptakan lapangan kerja produktif dan mendorong kemandirian energi/pangan lokal. Kebijakan harus lahir dari dialog inklusif, bukan dari ruang tertutup yang arogan, agar tidak memicu resistensi baru di masyarakat.
Hikmah dan Kebijaksanaan: Jembatan Antara Harapan dan Kenyataan
Di tengah jurang antara harapan akan umat yang kuat dan kenyataan ekonomi-politik yang rapuh, kita memerlukan hikmah dan kebijaksanaan.
Pertama, Hikmah Sosial: Umat harus aktif mengikis ujaran kebencian dengan memperbanyak narasi kebaikan. Media sosial, yang sering menjadi alat provokasi, harus diubah menjadi sarana edukasi dan solidaritas. Persaudaraan tidak hanya dirayakan saat lebaran, tetapi dipraktikkan dalam bentuk jaring pengaman sosial informal bagi tetangga yang terdampak krisis ekonomi.
Kedua, Kebijaksanaan Politik: Pemerintah dan elit politik harus menyadari bahwa stabilitas nasional bergantung pada kepuasan rakyat kecil. Responsivitas yang “smooth” berarti mendengarkan keluhan rakyat sebelum meledak menjadi demonstrasi besar. Ini membutuhkan empati dan kerendahan hati.
Ketiga, Transformasi Spiritual: Tema “Menguatkan Umat” juga berarti menguatkan ketahanan spiritual individu. Dengan berpuasa sunnah (seperti Asyura) dan memperbanyak sedekah, kita melatih diri untuk tidak diperbudak oleh materi dan status. Ini adalah antidot terbaik terhadap dekadensi moral akibat tekanan ekonomi.
Kesimpulan
Tahun Baru Islam 1448 H dengan tema “Menebar Maslahat, Menguatkan Umat” adalah panggilan untuk bertindak. Damai tidak akan turun dari langit jika kita masih sibuk saling menjatuhkan dalam kompetisi ekonomi yang curang atau bertarung dalam arena politik yang kotor. Maslahat harus ditebar melalui kebijakan ekonomi yang pro-rakyat dan etika politik yang bersih.
Mari jadikan momentum ini sebagai titik balik. Dari bersaing menjadi berbagi, dari berkonflik menjadi berkolaborasi, dan dari mengeluh menjadi bergerak. Hanya dengan hikmah dan kebijaksanaan, kita bisa mengubah guncangan menjadi pijakan, dan ketegangan menjadi harmoni. Selamat Tahun Baru Islam 1448 H. Semoga umat Indonesia semakin kuat, sejahtera, dan penuh maslahat.
Budi Hariyanto adalah seorang jurnalis





