Tak Pernah Dapat Bantuan Dari Pemerintah,Martauli Janda Miskin  Hanya Bisa Menatap Warga Lain Terima Bantuan

Oplus_131072

TAPANULI TENGAH –Di Usia menginjak 61 tahun, tenaga mulai menipis, dan tulang terasa semakin berat untuk dibawa berjalan.

Namun bagi Seorang Janda Miskin  Martauli br Panggabean, berhenti berusaha bukanlah pilihan. Setiap hari, sejak pagi menjelang siang hingga malam hari, ia masih memikul keranjang berisi Jagung rebus, Tapai, Kerupuk dan Kacang rebus untuk dijual dari satu tempat ke tempat lain.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Lima tahun sudah berlalu sejak suami tercinta meninggal, Sejak saat itu, beban hidup sepenuhnya berpindah ke pundaknya yang semampai. Sendirian, tanpa bantuan pasangan, Martauli berjuang mengayuh kehidupan.

Setiap hari, tepat pukul 11.00 WIB, ia berangkat menaiki mobil penumpang meninggalkan rumahnya di Pinang Sori II Hulu, Kecamatan Pinang Sori, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) menuju Aek Habil Kota Sibolga. Sesampai di Aek Habil, Kota Sibolga, ia mulai menjajakan jualannya sambil berjalan kaki.

Di pundaknya tergantung keranjang berisi jagung rebus, tape, dan kerupuk. Satu-satunya harapan untuk mendapatkan rezeki. Ia berjalan kaki berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, menahan teriknya matahari dan dinginnya angin malam, baru bisa pulang menjelang pukul 20.00 WIB, malam hari. Sepuluh jam ia melangkah, namun hasil yang didapat sangatlah sedikit.

“Rata-rata sehari dapatnya cuma sekitar Rp30.000. Kalau hari sedang mujur mungkin lebih sedikit, tapi kalau hujan atau sepi pembeli, kadang pulang hanya membawa sisa barang yang tak laku terjual,” ujar Martauli dengan suara parau, matanya berkaca-kaca menahan rasa sedih yang lama terpendam, Jum’at (12/6/2026).

Yang paling menyayat hatinya, selama bertahun-tahun berjuang, ia tidak pernah sekalipun menerima bantuan apa pun dari pemerintah. Ia hanya bisa mendengar kabar dan menatap dari jauh melihat tetangga serta warga sekitar yang secara rutin mendapatkan bantuan sosial, baik berupa sembako, dana, maupun kebutuhan lainnya.

“Saya hanya bisa melihat dan mendengarnya saja. Saya tidak pernah dapat apa-apa. Bukan saya tidak mau berusaha, saya sudah berjalan kaki jauh setiap hari demi sesuap nasi. Tapi kadang hati terasa perih, mengapa nasib saya terasa terlewatkan? Apakah saya belum berhak mendapatkan sedikit uluran tangan untuk meringankan beban ini?” keluhnya lirih.

Di usia renta ini, lututnya sering terasa nyeri dan pinggangnya terasa berat setiap kali harus memikul keranjang dagangan. Namun Martauli tak punya pilihan lain. Ia tak ingin membebani anak-anaknya yang juga masih berjuang membangun rumah tangga masing-masing. Ia tetap berusaha berdiri tegak, meski di dalam hatinya tersimpan rasa lelah yang mendalam.

Kisah Martauli, adalah gambaran perjuangan seorang ibu yang tangguh namun terlupakan. Ia hanya berharap ada pihak yang mendengar keluh kesahnya, sekadar perhatian dan bantuan kecil pun akan sangat berharga baginya melanjutkan hidup di masa tuanya.(JN)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *