Banjir Langganan Landa Desa Aji Kuning, Warga Minta Solusi Struktural Jangka Panjang

FOKUSINEWS.COM,KALTARA, MINGGU 14 JUNI 2026

NUNUKAN – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara, sejak Minggu (14/6/2026) pagi, bersamaan dengan pasang air laut, kembali menyebabkan banjir di sejumlah kawasan Desa Aji Kuning. Genangan merendam kolong rumah panggung, pertokoan, ruas jalan utama, serta fasilitas umum seperti Masjid Al-Aqsha dan Lapangan RTP Aji Kuning.

Banjir di Desa Aji Kuning bukan kali pertama terjadi. Kondisi ini merupakan persoalan tahunan yang selalu muncul saat curah hujan tinggi bertepatan dengan naiknya permukaan air laut. Kombinasi dua faktor alam tersebut menyebabkan air hujan tertahan dan meluap ke permukiman warga.

Selain faktor alam, banjir juga diperparah oleh sistem drainase yang belum memadai. Sejumlah saluran air mengalami penyumbatan sampah, pendangkalan sedimentasi, dan kerusakan struktur fisik. Kapasitas drainase yang ada dinilai tidak mampu menampung volume air saat hujan deras berlangsung lama.

Akibatnya, air meluap dan menggenangi kawasan padat penduduk. Titik-titik langganan banjir antara lain di Jalan Mulawarman RT 11 dan RT 12, Jalan Pangkalan RT 04, Jalan Perbatasan RT 05, Jalan Kampung Rambutan RT 06, Jalan Pasar Minggu RT 10, serta Jalan Sejahtera RT 12.

Genangan tidak hanya mengganggu mobilitas, tetapi juga berdampak pada aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik. Pada kondisi banjir yang lebih parah, kegiatan belajar mengajar di SDN 006 Sebatik Tengah dan SMPN 1 Sebatik Tengah terpaksa dihentikan sementara. Kantor desa dan fasilitas kesehatan juga ikut terdampak.

Pemerintah desa bersama warga selama ini telah melakukan gotong royong membersihkan saluran air. Namun, langkah tersebut dinilai belum menyelesaikan akar persoalan.

Wakil Ketua BPD Aji Kuning, Asdar, mengatakan bahwa banjir di desanya kini menjadi persoalan struktural yang tidak bisa diatasi hanya dengan kerja bakti.

“Kerja bakti warga memang penting untuk mengurangi sumbatan sampah. Akan tetapi, banjir di Aji Kuning telah berkembang menjadi persoalan struktural yang membutuhkan penanganan infrastruktur skala besar. Permasalahan seperti kapasitas drainase terbatas, topografi rendah, dan pasang surut air laut tidak bisa diselesaikan hanya dengan pembersihan rutin,” ujar Asdar, Minggu (14/6/2026).

Kepala Desa Aji Kuning, Syarifuddin, mengakui bahwa pemerintah desa menghadapi keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) untuk melakukan normalisasi drainase maupun pembangunan sistem pengendalian banjir berskala besar.

“Di tengah keterbatasan APBDes, kami juga menghadapi kendala anggaran untuk normalisasi drainase dan pembangunan sistem pengendalian banjir berskala besar. Karena itu, dukungan pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat sangat diperlukan,” kata Syarifuddin.

Asdar menambahkan, berdasarkan hasil Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang diinisiasi BPD Aji Kuning beberapa hari lalu, warga mengusulkan sejumlah solusi jangka panjang. Usulan itu meliputi pembangunan saluran drainase primer berkapasitas besar yang terhubung langsung ke laut, normalisasi saluran yang mengalami pendangkalan, serta peningkatan kualitas jaringan drainase di kawasan permukiman padat penduduk.

Masyarakat berharap adanya perhatian dan langkah konkret dari berbagai pihak untuk menyusun program penanganan banjir yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berorientasi jangka panjang. Dengan perencanaan matang dan dukungan anggaran memadai, warga optimistis banjir langganan di Desa Aji Kuning bisa diminimalkan.

Editor : FN – AR

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *