Serui, fokusinews.com – Suasana berbeda terlihat di Balai Kampung Mantembu, Distrik Anotaurei, Kabupaten Kepulauan Yapen, Sabtu (30/05/2026) malam. puluhan pasang mata tampak fokus menyaksikan pemutaran film dokumenter PESTA BABI, sebuah karya yang tidak hanya mengangkat tradisi budaya Papua, tetapi juga menggugah kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga identitas dan warisan leluhur di tengah arus perubahan zaman.
Kegiatan nonton bareng (nobar) yang digelar oleh Komunitas GATA PAPUA Yapen bersama Yayasan Dusun Papua (YADUPA) itu dimulai pukul 18.15 WIT dan dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, pemuda hingga warga Kampung Mantembu.
Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Bidang Peradilan Dewan Adat Suku (DAS) Kabupaten Kepulauan Yapen, Jellin Payai, Ketua Yayasan Dusun Papua (YADUPA), Jakson Yapanani, serta Ketua Komunitas GATA PAPUA Yapen, Niko Semboari.
Film dokumenter PESTA BABI menghadirkan potret kehidupan masyarakat Papua yang sarat nilai budaya, kebersamaan, relasi sosial, serta penghormatan terhadap tanah adat dan tradisi leluhur. Namun lebih dari sekadar tontonan, film tersebut menjadi ruang refleksi kolektif bagi masyarakat untuk menilai kembali posisi budaya Papua di tengah tantangan modernisasi, perubahan sosial, dan tekanan terhadap ruang hidup masyarakat adat.
Usai pemutaran film, peserta terlibat dalam diskusi terbuka yang berlangsung hangat dan penuh gagasan. Berbagai pandangan muncul mengenai pentingnya menjaga budaya sebagai fondasi pembangunan masyarakat Papua di masa depan.
Dalam forum diskusi tersebut, perhatian peserta banyak tertuju pada peran generasi muda yang dinilai harus menjadi garda terdepan dalam menjaga identitas budaya dan meneruskan nilai-nilai adat kepada generasi berikutnya.
Ketua Komunitas GATA PAPUA Yapen, Niko Semboari, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat agar budaya Papua tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi tetap hidup dan berkembang dalam kehidupan sehari-hari.
“Budaya tidak boleh berhenti menjadi cerita masa lalu. Budaya harus tetap hidup, dipahami, dijaga, dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai identitas yang membedakan kita sebagai orang Papua,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Yayasan Dusun Papua (YADUPA), Jakson Yapanani, mengapresiasi antusiasme masyarakat Kampung Mantembu yang aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Menurutnya, pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama yang tidak bisa dibebankan hanya kepada lembaga adat atau organisasi tertentu.
“Menjaga budaya membutuhkan keterlibatan semua pihak. Ketika masyarakat terlibat aktif seperti malam ini, maka harapan untuk menjaga warisan leluhur tetap terbuka dan kuat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Bidang Peradilan Dewan Adat Suku Kabupaten Kepulauan Yapen, Jellin Payai, menegaskan bahwa nilai-nilai adat merupakan fondasi kehidupan masyarakat Papua yang harus tetap dipertahankan di tengah perkembangan zaman.
Ia mengingatkan bahwa kemajuan tidak boleh membuat masyarakat tercerabut dari akar budaya dan identitasnya.
“Adat adalah identitas kita. Modernisasi boleh berkembang, tetapi nilai-nilai adat harus tetap menjadi pegangan dalam kehidupan masyarakat Papua,” tegas Jellin Payai.
Diskusi berlangsung hingga pukul 21.51 WIT dalam suasana penuh kebersamaan dan pertukaran gagasan. Sejumlah peserta bahkan berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan di kampung-kampung lain sebagai sarana edukasi budaya dan ruang dialog masyarakat.
Melalui pemutaran film dokumenter PESTA BABI, masyarakat tidak hanya diajak mengenang warisan budaya leluhur, tetapi juga diajak berpikir tentang masa depan Papua yang tetap berpijak pada identitas, tanah adat, dan nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Selama kegiatan berlangsung, situasi terpantau aman, tertib, dan mendapat respons positif dari masyarakat yang hadir.







