Jayapura, fokusinews.com – Konferensi ke-3 Analisis Papua Strategis (APS) resmi digelar di Papua Youth Creative Hub, Kota Jayapura, Jumat (29/05/2026). Forum nasional dan internasional tersebut menjadi ruang diskusi strategis membahas arah pembangunan Papua berbasis etnosains menuju Indonesia Emas 2045.
Konferensi APS 3 menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan internasional, di antaranya Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, para kepala daerah, tokoh adat, tokoh agama, akademisi hingga delegasi luar negeri dari Jepang, Australia dan Selandia Baru.
Dalam forum tersebut, Dedi Mulyadi yang akrab disapa KDM menyampaikan pesan kuat terkait ancaman modernisasi dan eksploitasi sumber daya alam terhadap masa depan Papua. Ia menegaskan pembangunan Papua tidak boleh menghilangkan identitas masyarakat adat serta kearifan lokal yang selama ini menjaga keseimbangan alam.
Menurutnya, Papua merupakan benteng terakhir kekayaan alam Indonesia yang harus dijaga bersama dari kerusakan lingkungan dan hilangnya budaya lokal akibat arus investasi dan pembangunan yang tidak terkendali.
“Papua adalah surga terakhir Indonesia. Jangan sampai orang Papua menjadi asing di tanahnya sendiri,” tegas KDM di hadapan peserta konferensi.
KDM juga menyoroti kerusakan lingkungan yang terjadi di Indonesia selama puluhan tahun pasca kemerdekaan. Ia menilai pembangunan modern justru banyak menurunkan daya dukung lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan.
“Indonesia merdeka sudah 80 tahun. Dalam 80 tahun ini terjadi penurunan sumber daya alam, hilangnya logam mulia, kerusakan hutan, laut dan sungai. Artinya kita telah menurunkan daya dukung lingkungan dan hampir tidak bisa lagi menitipkan negeri ini dengan baik kepada anak cucu kita,” ujarnya.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan kehidupan masyarakat adat dan leluhur Nusantara yang selama ratusan tahun mampu menjaga alam tanpa merusaknya.
Menurut KDM, salah satu kesalahan besar bangsa saat ini adalah memandang rendah pengetahuan leluhur dan kearifan lokal yang sesungguhnya terbukti mampu menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.
“Leluhur kita berabad-abad mampu menjaga alam ini dengan baik, tetapi hari ini kita justru menganggap rendah pengetahuan yang bersumber dari leluhur dan meremehkan kearifan lokal,” katanya.
Pernyataan KDM mendapat perhatian besar dari peserta konferensi karena dinilai menyentuh persoalan mendasar pembangunan Papua yang selama ini sering berhadapan dengan isu eksploitasi sumber daya alam, investasi besar dan keberlangsungan hidup masyarakat adat.
Konferensi APS 3 sendiri dijadwalkan berlangsung selama dua hari dengan menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis untuk percepatan pembangunan Papua yang berkeadilan, berbasis budaya dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.







